Kamis, 31 Desember 2009

obat nedokrin dan kemoterapi

Judul : Obat Endokrin dan Obat kemoterapi

Penyusun : Juwita Ninda
NPM : 09410341P






Bandar Lampung, 2 Januari 2009
Menyetujui:
Pembimbing Utama,


Prof dr. Rudi



























Abstrak

Dalam judul obat kemoterapi dan obat endokrin, kita dituntut untuk dapat menunjukkan fungsi umum , mampu menggambarkan fungsinya, dan efek juga memberikan nama dari obat-obat tersebut.
Penyebab dari kelainan obat kemoterapi dan obat endokrin diketahui memiliki konsep dalam berbagai keadaan bergantung pada mekanismenya, penggunaannya secara klinik dan toksisitasnya. . Obat-obat yang digunakanpun mempunyai beberapa kelas dan prototipe yang dipelajari secara detail, adapula agen signifikan yang lain yang terdaftar pada spesifik subkelas.
Petunjuk umum dalam memahami obat kemoterapi dan obat endokrin dibagi dalam beberapa kelas yaitu hormon hipothalamik dan pituitari, obat tiroid dan antitiroid , kortikosteroid dan antagonis, hormon gonad dan penghambatnya, pankreatik hormon antidiabetik agen dan obat hiperglikemik obat yang berafeksi pada homeostasis dan mineral tulang , sedangkan kelas obat kemoterapi terdapat pada beta-lactam antibiotik dan dinding sel lain yang mensintesis inhibitor-inhibitornya. Kloramfenikol, tetracycline, macrolides, clindamycin, streptogramins dan linezolid. Aminoglikosida, sulfonamida, trimethoprim dan fluoroquinolones, obat antimikrobial, antifungal agen ,antiviral kemoterapi dan profilaxis, antimikrobial agen dan urinari antiseptik, penggunaan klinik dari antimikrobial, prinsip dasar dari antiparasitik kemoterapi, obat antiprotozoa, obat antelmitik, kemoterapi kanker, immunofarmakologi.
Dan semua bagian dari obat endokrin dan obat kemoterapi dapat diidentifikasikan sebagai fungsi umumnya yaitu mengurangi efikasi hormonal dengan menambah fungsi metabolismenya sebagai kita ketahui dari ilmu pengetahuan didapatkan aksi dari efek kimia dan biologiknya didapatkan pengobatan penyakit terutama pada manusia adalah efek yang tidak diinginkan dari sistem biologik yang mana biasanya termasuk inorganik ion, nonpeptida, peptida kecil dan protein, asam amino, lipid dan karbohidrat.



















KATA PENGANTAR

Penyusunan skripsi ini bertujuan untuk memenuhi salah satu syarat untuk menyelesaikan program pendidikan sarjana kedokteran di fakultas kedokteran umum universitas malahayati bandar lampung.
Pada kesempatan ini penulis ingin menyampaikan ucapan terima kasih kepada:

-Prof dr. Rudi selaku pembimbing
-seluruh dosen, staf dan karyawan bagian administrasi FKUMBL dan bagian farmakologi serta karyawan perpustakaan yang lain.
- Mama dan papa yang telah membesarkan, mengasuh, mendidik, mendoakan dan senantiasa memberikan dorongan moril dan materil yang tidak ternilai.
- Pada teman-teman angkatan 2007, terutama untuk Rangga Samhadi, Indah, Icha, Ve, maya, dan teman-teman di fku maranatha Taufik Hidayat,suci yang telah banyak memberikan bantuan dan dorongan semangat.

Akhir kata penulis mengharapkan skripsi ini dapat berguna bagi semua pihak.


Bandar Lampung 2 Januari 2009

penulis

























DAFTAR ISI

ABSTRAK………………………………………………………………………………...2
KATA PENGANTAR…………………………………………………………………….3
DAFTAR ISI………………………………………………………………………………4
BAB I PENDAHULUAN
1.1 latar belakang penelitian………………………………………………………………6
1.2 Identifikasi masalah……………………………..……………………………………6
1.3 Maksud dan tujuan penelitian…………………………………………………………6
1.4 Kegunaan penelitian………………………………………...…………………………6
1.5 Kerangka pemikiran……………………………………………………...……………7
1.6 Metode penelitian…………………………………………………………….………15
1.7 Lokasi dan waktu penelitian…………………………………………………………15
1.8 Struktur organisasi………………………………………………………...…………15

BAB II TINJAUAN PUSTAKA
Bagian permulaan
2.1 Definisi…………………………………………………………….…………………16
2.2 kelenjar endokrin……………………………………………………………….……16
2.3 hormon…………………………………………………………….…………………17
2.4 kemoterapi, manfaat, dan efek samping………………………………………..……20

Bagian Obat Endokrin
2.1 Hipotalamik dan hormon pituitari……………………………………………………25
2.2 tiroid dan obat antitiroid……………………………………………………………...34
2.3 kortikosteroid dan antagonis…………………………………………………………44
2.4 hormon gonad dan inhibitornya……………………………………………………...46
2.5 pankreatik hormon, antidiabetik agen dan hiperglikemik obat………………………57
2.6 obat yang berafeksi pada homeostasis mineral tulang……………………………….65

Bagian Obat kemoterapi
2.1 beta lactam antibiotik dan dinding sel sintesis yang lain inhibitornya………………68
2.2 chlorampenicol, tetracycline, macrolida, klindamicin, streptrogmin, dan linezolid…76
2.3 Aminoglikosida………………………………………………………………………84
2.4 sulfonamida, trimetropin dan fluoroquinolone………………………………………90
2.5 obat antimikrobial……………………………………………………………………96
2.6 agen antifungal…………………………………………………………………...…102
2.7 antiviral kemoterapi dan profilaxis…………………………………………………105
2.8 obat antimicrobial dan antiseptik urinary………………………………………..…108
2.9 penggunaan klinik dari antimikrobial………………………………………………110
3.0 prinsip umum dari antiparasitik kemoterapi ……………………………………….112
3.1 obat antiprotozoal……………………………………………………...……………114
3.2 obat anthelmintik………………………………………………………...…………116
3.3 kemoterapi kanker………………………………………………………………..…117
3.4 immunofarmakologi……………………………………………...…………………132

Bab III BAHAN DAN METODE PENELITIAN
3.1 metode penelitian…………………………………………………………………...143
3.2 bahan penelitian…………………………………………………………………….143
3.3 Prosedur penelitian……………………………………………….…………………143
3.4 Analisa hasil penelitian……………………………………………………..………143

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil penelitian……………………………………………………………..………144
4.2 Pembahasan ……………………………………………………………...…………144
..
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 kesimpulan………………………………………………………………….………150
5.2 saran……………………………………………………………………...…………150

Daftar pustaka………………………………………………………..…………………151



BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang Penelitian

Obat endokrin dan obat kemoterapi bertujuan untuk memberikan konsep umum bahwa metabolismenya tergantung dari hormon hipothalamik dan pituitari, obat tiroid dan antitiroid , kortikosteroid dan antagonis, hormon gonad dan penghambatnya, pankreatik hormon antidiabetik agen dan obat hiperglikemik obat yang berafeksi pada homeostasis dan mineral tulang , sedangkan kelas obat kemoterapi terdapat pada beta-lactam antibiotik dan dinding sel lain yang mensintesis inhibitor-inhibitornya. Kloramfenikol, tetracycline, macrolides, clindamycin, streptogramins dan linezolid. Aminoglikosida, sulfonamida, trimethoprim dan fluoroquinolones, obat antimikrobial, antifungal agen ,antiviral kemoterapi dan profilaxis, antimikrobial agen dan urinari antiseptik, penggunaan klinik dari antimikrobial, prinsip dasar dari antiparasitik kemoterapi, obat antiprotozoa, obat antelmitik, kemoterapi kanker, immunofarmakologi.
Dengan maksud dapat menunjukka sintesis, mekanisme aksi, penggunaan klinik, toksisitas dan obat-obat yang terdaftar didalamnya dimana obat-obat ini merupakan salah satu masalah kesehatan utama bagi semua orang yang mengalami disfungsi organ endokrin dan dalam menghadapi suatu kemoterapi yang berperan dalam penurunan kualitas hidup seseorang akibat gejala-gejala toksisitas yang ditimbulkannya baik secara kimiawi dan biologik metabolisme, absorbsi dan eksresinya.

1.2 Identifikasi masalah

1. Menggambarkan fungsi umum dari obat endokrin dan obat kemoterapi
2. Menggambarkan aksi dari obat endokrin dan obat kemoterapi
3. M emberikan indikasi penggunaan dari obat dan kelainannya

1.3 Maksud dan tujuan penelitian

Tujuan penelitian ini adalah untuk memberi gambaran klinis tentang kasus-kasus yang berkaitan dengan obat kemoterapi dan obat endokrin khususnya untuk
1. memberikan konsep umum dari penggunaan obat kemoterapi dan obat endokrin
2. Mengetahui metabolisme, sintesis, penggunaan klinis, dan toksisitas dari obat endokrin dan obat kemoterapi
3. mengetahui distribusi obat menurut subkelas, prototipe, dan agen signifikan lainnya yang berhubungan dengan daftar penggunaan obat kemoterapi dan obat endokrin.

1.4 Kegunaan penelitian
Penelitian yang diambil secara retrospektif dan dianalisa secara deskriptif dari penggambaran konsep umum obat endokrin dan obat kemoterap kanker bertujuan untuk mengidentifikasi jenis dari aspek kimiawi ibat dan pada reseptor mana obat itu bekerja secara klinik dan efek sampingnya apakah menimbulkan toksikologi yang dimungkinkan mempengaruhi efek metabolitnya, juga berkenaan dengan obat-obat yang terdaftar yang digunakan untuk mengobati kelainan penyakit yang terjadi.

I.5 Kerangka pemikiran
Kemoterapi adalah tindakan/terapi pemberian senyawa kimia (obat) untuk mengurangi, menghilnagkan atau menghambat pertumbuhan parasit atau mikroba di tubuh hospes (pasien).
Antimikroba adalah obat pembasmi mikroba, khususnya mikroba yang merugikan manusia.
Penggolongan antimikroba dan kemoterapi
Kemoterapi dan antimikroba lain dapat digolongkan sebagai berikut :
1. Antimikroba untuk tuberkulosa / obat tb

2. Antimikroba untuk virus/ anti virus

3. Kemoterapi untuk kanker/ obat kanker

4. Kemoterapi golongan antiamuba
Berdasarkan tempat kerjanya, antiamuba yang dipasarkan di Indonesia adalah antiamuba yang bekerja pada lumen usus dan jaringan yaitu metronidazol dan turunannya.

5. Kemoterapi golongan antelmintik / obat cacing
Antelmintik atau obat cacing ialah obat yang digunakan untuk memberantas atau mengurangi cacing dalam lumen usus atau jaringan tubuh.
Kebanyakan obat cacing efektif terhadap satu macam kelompok cacing, sehingga diperlukan diagnosis dengan menemukan cacing, telur cacing dan larva dalam tinja, urin, sputum, darah atau jaringan lain penderita.
Kebanyak obat cacing diberikan secara oral, pada saat makan atau sesudah makan.

6. Kemoterapi golongan antimalaria / obat malaria
Secara klinis ada tiga macam penyakit malaria. Malaria tropika yang disebabkan oleh P.falciparum yang cenderung menjadi akut, tetapi bila cepat diobati, hasil pengobatannya memuaskan.
Malaria tersiana yang disebabkan oleh P. vivax, yang cenderung menjadi kronis. Dan malaria kuartana yang disebabkan oleh P.malaria dan terdapat banyak di Afrika.

7. Kemoterapi golongan antifungal / obat jamur
Secara umum infeksi jamur dibedakan atas infeksi jamur sistemik/dalam tubuh dan infeksi jamur topikal/kulit. Akan tetapi dalam pengobatannya, ada obat jamur bisa digunakan baik sistemik maupun kulit.

8. Kemoterapi golongan filarisida
Berdasarkan sifat toksisitas selektif, ada antimikroba yang bersifat menghambat pertumbuhan mikroba, dikenal sebagai aktivitas bakteriostatik, dan ada yang bersifat membunuh mikroba, dikenal sebagai aktivitas bakterisid.
Pemusnahan mikroba dengan antimikroba yang bersifat bakteriostatik masih tergantung dari kesanggupan reaksi daya tahan tubuh hospes/pasien. Peranan lamanya kontak antara mikroba dengan antimikroba dalam kadar efektif juga sangat menentukan untuk mendapatkan efeknya, khususnya pada tuberkulosa.
Kemoterapi tidak dibatasi dengan penggunaan satu obat. Biasanya kemoterapi berupa kombinasi dari obat yang bekerja bersama khususnya untuk membunuh sel kanker.
Mengkombinasikan obat yang memiliki mekanisme aksi yang berbeda saat di dalam sel dapat meningkatkan pengrusakan dari sel kanker dan mungkin dapat menurunkan resiko perkembangan kanker yang resisten terhadap salah satu jenis obat.

1. ANTIDIABETIK

NO SUB JUDUL GOLONGAN GENERIK NAMA PATEN KODE
1 INSULIN - - - 6- 234
2 ANTIDIABETIK - SULFONILUREA KLORPROPAMID Klorpropamid 6- 230
ORAL Diabenese
Hartamid
Poncomell
Tesmel
GLIKAZID Diamicron 6- 230
Glicab
Glucodex
Glukolos
Glumeco
GLIBENKLAMID Condiabet 6- 230
Daonil
Fimediab
Gliseta
Harmida
GLIPIZID Aldiab 6- 230
Minidiab
GLIKUIDON Glurenorm 6- 230
TOLBUTAMID Recodiabet 6- 230
BIGUANID METFORMIN - Diabex 6- 231
HIDROKLORIDA Forbetes
Glucophage
Methpica
Neodipar
ANTIDIABETIK LAIN AKARBOSA Glucobay 6- 238
3 PENGOBATAN GLUKAGON Glukagon 6- 238
HIPOGLIKEMIA Glikogen
Glukakon


3
2. HORMON TIROID DAN PENGHAMBAT TIROID

NO SUB JUDUL GOLONGAN GENERIK NAMA PATEN KODE
1 HORMON TIROID GARAM TIROID Thyrax 6- 279
2 PENGHAMBAT KARBIMAZOL Neo-Mecarzole 6- 282
TIROID
PROPILTIOURASIL Prophyltiourasil 6- 281

3. KORTIKOSTEROID

NO SUB JUDUL GOLONGAN GENERIK NAMA PATEN KODE
1 TERAPI HIDROKORTISON 6- 200
PENGGANTI
HORMON ALDOSTERON 6- 206
2 ANTIINFLAMASI PREDNISOLON Prednisolon 6- 203
SISTEMIK
PREDNISON Dellacorta 6- 202
Erlanison
Kokosone
Pehacort
Predsil
BETAMETASON Betason 6- 205
Celeston
DEKSAMETASON Bimadex 6- 205
Camideson
Corsona
Cortidex
Ermethasone
FLUDROKORTISON Florinef 6- 204
FLUOKORTOLON Ultralan 7- 606
HIDROKORTISON Silacort 6- 200
Solu-Cortef
KORTISON 6- 201


4
METILPREDNISOLON Cortesa 6- 207
Depo Medrol
Intidrol
Lameson
Lexcomet
TRIAMSINOLON Cicort 6- 205
Kenacort
Kenacort A IM
Kenacort A IM/ID
Triamcort

4. HORMON SEKSUAL DAN ANTAGONISNYA

NO SUB JUDUL GOLONGAN GENERIK NAMA PATEN KODE
1 HORMON ESTROGEN dan ESTROGEN untuk 6- 221
PEREMPUAN ANTIESTROGEN HRT
ESTROGEN Lynoral 6- 225
TUNGGAL ETINIL-
ESTRADIOL
ESTRADIOL Estraderm Mx 6- 221
ESTRADIOL - Progynova 6- 221
VALERAT
ESTRIOL SUKSENAT Ovestin 6- 221
ESTROGEN TER- Premarin -
KONYUGASI
DIETILSTILBESTROL Stilboestrol 6- 222
ANTIESTROGEN KLOMIFEN Buranidin 6- 220
Cetaclom
Fertilphen
Mestrolin
Provula
EPIMESTROL Stimovul -


5
PROGESTERON MEDROKSI PROGE- Depo Geston 6- 224
STERON ASETAT Depo Progestin
Depo Provera
Provera
DIDROGESTERON Duphaston 6- 224
NORETISTERON Primolut N 6- 225
PROGESTERON 6- 223
HIDROKSI PROGES- Proluton depot 6- 223
TERON HEXANOAT
ALLIESTRENOL Gestanon 6- 222
LINESTRENOL Endometril 6- 225
Exluton 28
ESTRACOMB TTS Estracomb TTS* -
TIBOLON Livial -
2 HORMON LAKI- ANDROGEN 6- 212
LAKI dan ANTA-
GONISNYA FLUOKSIMESTERON Halotestin 6- 215
TESTOSTERON UN- Andriol 6- 210
DEKANOAT
MESTEROLON Proviron -
ANTIANDROGEN SIPROTERON - Diane * 6- 214
ASETAT
FINASTERID Proscar -
Prosh
Prostacom
Reprostom


6
3 ANABOLIK STE- NANDROLON Deca Durabolin 6- 219
ROID Durabolin
METANDROSTEN- Neo-anabolone 6- 219
OLON Orgabolin

5. HORMON HIPOTALAMUS DAN HIPOFISIS

NO SUB JUDUL GOLONGAN GENERIK NAMA PATEN KODE
1 HORMON PER- SOMATOTROPIN Genotropin 16UI 6- 249
TUMBUHAN Norditrophin 12UI
Saizen
2 GONADOTROPIN HUMAN CHORIONIC- Pregnyl 6- 290
GONADOTROPHIN Profasi
(HCG)
HUMAN MENOPAUS- Humegon 6- 29
AL GONADOTROPIN Pergonal
(HMG)
ULOFOLITROFIN Metrodin -
3 VASOPRESIN VASOPRESIN Pitressin 6- 251
4 HORMON HIPO- GONADORELIN Fertiral
TALAMUS

6. KONTRASEPSI HORMONAL

NO SUB JUDUL GOLONGAN GENERIK NAMA PATEN KODE
1 KONTRASEPSI - KONTASEPSI ORAL - 6- 225
KOMBINASI KOMBINASI (KOK)
KONTRASEPSI Cyclofem * -
INJEKSI KOMBINASI Cyclogeston *
(KIK) Dilena *
2 KONTRASEPSI - KONTRASEPSI - KONTRASEPSI ORAL Exluton -
PROGESTIN ORAL PROGESTIN PROGESTIN


7
KONTRASEPSI - MEDROKSI PROGE- Depo Geston 6- 224
INJEKSI PROGEST- STERON ASETAT Depo Progestin
IN (KIP) dan SUSUK Depo Provera
Provera
NORETISTERON- Primolut N 6- 225
ENANTAT
LEVONORGESTREL Norplant -

7. HORMON LAIN

NO SUB JUDUL GOLONGAN GENERIK NAMA PATEN KODE
1 BROMOKRIPTIN Elkrip 6- 291
Parlodel La
DANAZOL Azol 6- 291
Danocrine
GESTRINON Dimetriose 6- 291
OKTREOTID Sandostatin 6- 291
KALSITONIN Calsynar 6- 291
Calsynar nasal-
spray
Miacalcic



I.6 Metode penelitian
Penelitian ini dilakukan secara retrospektif dan dianalisa secara deskriptif terhadap semua kasus yang didiagnosis secara konseptual mengenai obat-obat endokrin dan obat kemoterapi.

I.7 Lokasi dan waktu penelitian
Penelitian ini dilakukan di rumah bersama dengan beberapa teman di bagian farmakologi.

I.8 Struktur organisasi
Peneliti: Juwita ninda suherman
Pembimbing utama : Prof Dr Rudi

BAGIAN PERMULAAN

2.1 DEFINISI
Sistem endokrin terdiri dari sekelompok organ (kadang disebut sebagai kelenjar sekresi internal), yang fungsi utamanya adalah menghasilkan dan melepaskan hormon-hormon secara langsung ke dalam aliran darah.
Hormon berperan sebagai pembawa pesan untuk mengkoordinasikan kegiatan berbagai organ tubuh.

2.2 KELENJAR ENDOKRIN

Organ utama dari sistem endokrin adalah:
• Hipotalamus
• Kelenjar hipofisa
• Kelenjar tiroid
• Kelenjar paratiroid
• Pulau-pulau pankreas
• Kelenjar adrenal
• Buah zakar
• Indung telur.
Selama kehamilan, plasenta juga bertindak sebagai suatu kelenjar endokrin.

Hipotalamus melepaskan sejumlah hormon yang merangsang hipofisa; beberapa diantaranya memicu pelepasan hormon hipofisa dan yanglainnya menekan pelepasan hormon hipofisa.

Kelenjar hipofisa kadang disebut kelenjar penguasa karena hipofisa mengkoordinasikan berbagai fungsi dari kelenjar endokrin lainnya.
Beberapa hormon hipofisa memiliki efek langsung, beberapa lainnya secara sederhana mengendalikan kecepatan pelepasan hormon oleh organ lainnya.
Hipofisa mengendalikan kecepatan pelepasan hormonnya sendiri melalui mekanisme umpan balik, dimana kadar hormon endokrin lainnya dalam darah memberikan sinyal kepada hipofisa untuk memperlambat atau mempercepat pelepasan hormonnya.

Tidak semua kelenjar endokrin berada dibawah kendali hipofisa; beberapa diantaranya memberikan respon, baik langsung maupun tidak langsung, terhadap konsentrasi zat-zat di dalam darah:
• Sel-sel penghasil insulin pada pankreas memberikan respon terhadap gula dan asam lemak
• Sel-sel paratiroid memberikan respon terhadap kalsium dan fosfat
• Medulla adrenal (bagian dari kelenjar adrenal) memberikan respon terhadap perangsangan langsung dari sistem saraf parasimpatis.

Banyak organ yang melepaskan hormon atau zat yang mirip hormon, tetapi biasanya tidak disebut sebagai bagian dari sistem endokrin.
Beberapa organ ini menghasilkan zat-zat yang hanya beraksi di tempat pelepasannya, sedangkan yang lainnya tidak melepaskan produknya ke dalam aliran darah.
Contohnya, otak menghasilkan berbagai hormon yang efeknya terutama terbatas pada sistem saraf.




2.3 HORMON

Hormon adalah zat yang dilepaskan ke dalam aliran darah dari suatu kelenjar atau organ, yang mempengaruhi kegiatan di dalam sel-sel.
Sebagian besar hormon merupakan protein yang terdiri dari rantai asam amino dengan panjang yang berbeda-beda. Sisanya merupakan steroid, yaitu zat lemak yang merupakan derivat dari kolesterol.
Hormon dalam jumlah yang sangat kecil bisa memicu respon tubuh yang sangat luas.

Hormon terikat kepada reseptor di permukaan sel atau di dalam sel. Ikatan antara hormon dan reseptor akan mempercepat, memperlambat atau merubah fungsi sel. Pada akhirnya hormon mengendalikan fungsi dari organ secara keseluruhan:
• Hormon mengendalikan pertumbuhan dan perkembangan, perkembangbiakan dan ciri-ciri seksual
• Hormon mempengaruhi cara tubuh dalam menggunakan dan menyimpan energi
• Hormon juga mengendalikan volume cairan dan kadar air dan garam di dalam darah.

Beberapa hormon hanya mempengaruhi 1 atau 2 organ, sedangkan hormon yang lainnya mempengaruhi seluruh tubuh.
Misalnya, TSH dihasilkan oleh kelenjar hipofisa dan hanya mempengaruhi kelenjar tiroid. Sedangkan hormon tiroid dihasilkan oleh kelenjar tiroid, tetapi hormon ini mempengaruhi sel-sel di seluruh tubuh. Insulin dihasilkan oleh sel-sel pulau pankreas dan mempengaruhi metabolisme gula, protein serta lemak di seluruh tubuh.


PENGENDALIAN ENDOKRIN

Jika kelenjar endokrin mengalami kelainan fungsi, maka kadar hormon di dalam darah bisa menjadi tinggi atau rendah, sehingga mengganggu fungsi tubuh.
Untuk mengendalikan fungsi endokrin, maka pelepasan setiap hormon harus diatur dalam batas-batas yang tepat.
Tubuh perlu merasakan dari waktu ke waktu apakah diperlukan lebih banyak atau lebih sedikit hormon.

Hipotalamus dan kelenjar hipofisa melepaskan hormonnya jika mereka merasakan bahwa kadar hormon lainnya yang mereka kontrol terlalu tinggi atau terlalu rendah.
Hormon hipofisa lalu masuk ke dalam aliran darah untuk merangsang aktivitas di kelenjar target. Jika kadar hormon kelenjar target dalam darah mencukupi, maka hipotalamus dan kelenjar hipofisa mengetahui bahwa tidak diperlukan perangsangan lagi dan mereka berhenti melepaskan hormon.
Sistem umpan balik ini mengatur semua kelenjar yang berada dibawah kendali hipofisa.

Hormon tertentu yang berada dibawah kendali hipofisa memiliki fungsi yang memiliki jadwal tertentu. Misalnya, suatu siklus menstruasi wanita melibatkan peningkatan sekresi LH dan FSH oleh kelenjar hipofisa setiap bulannya. Hormon estrogen dan progesteron pada indung telur juga kadarnya mengalami turun-naik setiap bulannya.
Mekanisme pasti dari pengendalian oleh hipotalamus dan hipofisa terhadap bioritmik ini masih belum dapat dimengerti. Tetapi jelas terlihat bahwa organ memberikan respon terhadap semacam jam biologis.

Faktor-faktor lainnya juga merangsang pembentukan hormon.
Prolaktin (hormon yang dikeluarkan oleh kelenjar hipofisa) menyebabkan kelenjar susu di payudara menghasilkan susu. Isapan bayi pada puting susu merangsang hipofisa untuk menghasilkan lebih banyak prolaktin. Isapan bayi juga meningkatkan pelepasan oksitosin yang menyebabkan mengkerutnya saluran susu sehingga susu bisa dialirkan ke mulut bayi.

Kelenjar semacam pulau pakreas dan kelenjar paratiroid, tidak berada dibawah kendali hipofisa. Mereka memiliki sistem sendiri untuk merasakan apakah tubuh memerlukan lebih banyak atau lebih sedikit hormon.
Misalnya kadar insulin meningkat segera setelah makan karena tubuh harus mengolah gula dari makanan. Jika kadar insulin terlalu tinggi, kadar gula darah akan turun sampai sangat rendah.

Kadar hormon lainnya bervariasi berdasarkan alasan yang kurang jelas.
Kadar kortikosteroid dan hormon pertumbuhan tertinggi ditemukan pada pagi hari dan terendah pada senja hari. Alasan terjadinya hal ini belum sepenuhnya dimengerti.


HORMON UTAMA
Hormon Yg menghasilkan Fungsi
Aldosteron Kelenjar adrenal Membantu mengatur keseimbangan garam & air dengan cara menahan garam & air serta membuang kalium
Hormon antidiuretik
(vasopresin) Kelenjar hipofisa • Menyebabkan ginjal menahan air
• Bersama dengan aldosteron, membantu mengendalikan tekanan darah
Kortikosteroid Kelenjar adrenal Memiliki efek yg luas di seluruh tubuh, terutama sebagai:
• Anti peradangan
• Mempertahankan kadar gula darah, tekanan darah & kekuatan otot
• Membantu mengendalikan keseimbangan garam & air
Kortikotropin Kelenjar hipofisa Mengendalikan pembentukan & pelepasan hormon oleh korteks adrenal
Eritropoietin
Ginjal Merangsang pembentukan sel darah merah
Estrogen Indung telur Mengendalikan perkembangan ciri seksual & sistem reproduksi wanita
Glukagon Pankreas Meningkatkan kadar gula darah
Hormon pertumbuhan Kelenjar hipofisa Mengendalikan pertumbuhan & perkembangan
• Meningkatkan pembentukan protein
Insulin Pankreas • Menurunkan kadar gula darah
• Mempengaruhi metabolisme glukosa, protein & lemak di seluruh tubuh
LH (luteinizing hormone)
FSH (follicle-stimulating hormone) Kelenjar hipofisa • Mengendalikan fungsi reproduksi (pembentukan sperma & sementum, pematangan sel telur, siklus menstruasi
• Mengendalikan ciri seksual pria & wanita (penyebaran rambut, pembentukan otot, tekstur & ketebalan kulit, suara dan bahkan mungkin sifat kepribadian)
Oksitosin Kelenjar hipofisa Menyebabkan kontraksi otot rahim & saluran susu di payudara
Hormon paratiroid Kelenjar paratiroid Mengendalikan pembentukan tulang
• Mengendalikan pelepasan kalsium & fosfat
Progesteron Indung telur Mempersiapkan lapisan rahim untuk penanaman sel telur yg telah dibuahi
• Mempersiapkan kelenjar susu untuk menghasilkan susu
Polaktin Kelenjar hipofisa Memulai & mempertahankan pembentukan susu di kelenjar susu
Renin & angiotensin Ginjal Mengendalikan tekanan darah
Hormon tiroid Kelenjar tiroid Mengatur pertumbuhan, pematangan & kecepatan metabolisme
TSH
(tyroid-stimulating hormone) Kelenjar hipofisa Merangsang pembentukan & pelepasan hormon oleh kelenjar tiroid


2.4 kemoterapi , manfaat dan efek samping
Bila pada suatu tempat di badan kita terdapat pertumbuhan sel-sel yang berlebihan, maka akan terjadi suatu benjolan atau Tumor. Tumor ini dapat bersifat jinak maupun ganas. Tumor yang ganas inilah yang disebut dengan Kanker. Tumor Ganas mempunyai sifat yang khas, yaitu dapat menyebar luas ke bagian lain di seluruh tubuh untuk berkembang menjadi Tumor yang baru. Penyebaran ini disebut Metastase. Kanker mempunyai karakteristik yang berbeda-beda. Ada yang tumbuh secara cepat, ada yang tumbuh tidak terlalu cepat.

Terdapat kurang lebih 130 jenis penyakit Kanker, yang mempengaruhi kondisi tubuh kita dengan berbagai macam cara dan membutuhkan penanganan yang berbeda-beda. Tetapi semua jenis Kanker itu memiliki kesamaan: terdiri atas sel-sel yang membelah dengan cepat dan tumbuh tak terkontrol. Fungsi utama obat-obat Kemoterapi (Ing. Chemotherapy) adalah mengenali dan menghancurkan sel-sel seperti ini.

Kemoterapi telah digunakan sejak tahun 1950-an. Biasa diberikan sebelum atau sesudah pembedahan. Tujuannya adalah membasmi seluruh sel-sel Kanker sampai ke akar-akarnya, sampai ke lokasi yang tidak terjangkau pisau bedah. Paling tidak untuk mengontrol sel-sel Kanker agar tidak menyebar lebih luas. Pengobatan Kanker tergantung pada jenis atau tipe Kanker yang diderita dan dari mana asal Kanker tersebut. Umur, kondisi kesehatan umum pasien serta system pengobatan juga mempengaruhi proses pengobatan kanker. Pada kasus Kanker Pengobatan utama adalah melalui:

1. Pembedahan atau Operasi
2. Kemoterapi atau dengan cara pemberian Obat-obatan
3. Radioterapi atau Penggunaan Sinar Radiasi

Pada kenyataannya Secara umum biasanya digunakan lebih dari satu macam cara pengobatan di atas, misalnya Pembedahan yang diikuti oleh Kemoterapi atau Radioterapi, bahkan kadang pengobatan digunakan dengan 3 kombinasi (Pembedahan, Kemotarapi dan Radioterapi). Pada dasarnya Tujuan utama dari Pembedahan adalah mengangkat Kanker secara keseluruhan karena Kanker hanya dapat sembuh apabila belum menjalar ketempat lain. Sedangkan Kemoterapi dan Riadiasi tidak bukan dan tidak lain bertujuan untuk membunuh sel-sel Kanker atau menghentikan pertumbuhan sel-sel Kanker yang masih tertinggal.

Kemoterapi adalah proses pengobatan dengan menggunakan obat-obatan yang bertujuan untuk membunuh atau memperlambat pertumbuhan sel-sel Kanker. Banyak obat yang digunakan dalam Kemoterapi.

Manfaat Kemoterapi antara lain adalah sebagai berikut:

1. Pengobatan
Beberapa jenis kanker dapat disembuhkan secara tuntas dengan satu jenis Kemoterapi atau
beberapa jenis Kemoterapi.

2. Kontrol
Kemoterapi ada yang bertujuan untuk menghambat perkembangan Kanker agar tidak
bertambah besar atau menyebar ke jaringan lain.

3. Mengurangi Gejala
Bila kemotarapi tidak dapat menghilangkan Kanker, maka Kemoterapi yang diberikan
bertujuan untuk mengurangi gejala yang timbul pada penderita, seperti meringankan rasa
sakit dan memberi perasaan lebih baik serta memperkecil ukuran Kanker pada daerah yang
diserang.

Kemoterapi dapat diberikan dengan cara Infus, Suntikan langsung (pada otot, bawah kulit, rongga tubuh) dan cara Diminum (tablet/kapsul).

- Dalam bentuk tablet atau kapsul yang harus diminum beberapa kali sehari. Keuntungan
kemoterapi oral semacam ini adalah: bisa dilakukan di rumah.
- Dalam bentuk suntikan atau injeksi. Bisa dilakukan di ruang praktek dokter, rumah sakit,
klinik, bahkan di rumah.
- Dalam bentuk infus. Dilakukan di rumah sakit, klinik, atau di rumah (oleh paramedis yang
terlatih).

Tergantung jenisnya, Kemoterapi ada yang diberikan setiap hari, seminggu sekali, tiga minggu sekali, bahkan sebulan sekali. Berapa seri penderita harus menjalani Kemoterapi, juga tergantung pada jenis kanker penderita. Yang paling ditakuti dari kemoterapi adalah efek sampingnya. Ada orang yang sama sekali tidak merasakan adanya efek samping Kemoterapi. Ada yang mengalami efek samping ringan. Tetapi ada juga yang sangat menderita karenanya. Ada-tidak atau berat-ringannya efek samping kemoterapi tergantung pada banyak hal, antara lain jenis obat kemoterapi, kondisi tubuh Anda, kondisi psikis Anda, dan sebagainya. Efek samping Kemoterapi timbul karena obat-obat kemoterapi sangat kuat, dan tidak hanya membunuh sel-sel kanker, tetapi juga menyerang sel-sel sehat, terutama sel-sel yang membelah dengan cepat. Karena itu efek samping kemoterapi muncul pada bagian-bagian tubuh yang sel-selnya membelah dengan cepat. Efek samping dapat muncul ketika sedang dilakukan pengobatan atau beberapa waktu setelah pengobatan. Efek samping yang bisa timbul adalah antara lain:

1. Lemas
Efek samping yang umum timbul. Timbulnya dapat mendadak atau perlahan. Tidak langsung
menghilang dengan istirahat, kadang berlangsung terus hingga akhir pengobatan.

2. Mual dan Muntah
Ada beberapa obat Kemoterapi yang lebih membuat mual dan muntah. Selain itu ada
beberapa orang yang sangat rentan terhadap mual dan muntah. Hal ini dapat dicegah dengan
obat anti mual yang diberikan sebelum,selama, atau sesudah pengobatan Kemoterapi. Mual
muntah dapat berlangsung singkat ataupun lama.

3. Gangguan Pencernaan
Beberapa jenis obat Kemoterapi berefek diare. Bahkan ada yang menjadi diare disertai
dehidrasi berat yang harus dirawat. Sembelit kadang bisa terjadi.
Bila diare: kurangi makanan berserat, sereal, buah dan sayur. Minum banyak untuk
mengganti cairan yang hilang.
Bila susah BAB: perbanyak makanan berserat, olahraga ringan bila memungkinkan

4. Sariawan
Beberapa obat kemoterapi menimbulkan penyakit mulut seperti terasa tebal atau infeksi.
Kondisi mulut yang sehat sangat penting dalam kemoterapi

5. Rambut Rontok
Kerontokan rambut bersifat sementara, biasanya terjadi dua atau tiga minggu setelah
kemoterapi dimulai. Dapat juga menyebabkan rambut patah di dekat kulit kepala. Dapat
terjadi setelah beberapa minggu terapi. Rambut dapat tumbuh lagi setelah kemoterapi selesai.

6. Otot dan Saraf
Beberapa obat kemoterapi menyebabkan kesemutan dan mati rasa pada jari tangan atau kaki
serta kelemahan pada otot kaki. Sebagian bisa terjadi sakit pada otot.

7. Efek Pada Darah
Beberapa jenis obat kemoterapi dapat mempengaruhi kerja sumsum tulang yang merupakan
pabrik pembuat sel darah, sehingga jumlah sel darah menurun. Yang paling sering adalah
penurunan sel darah putih (leokosit). Penurunan sel darah terjadi pada setiap kemoterapi dan
tes darah akan dilaksanakan sebelum kemoterapi berikutnya untuk memastikan jumlah sel
darah telah kembali normal. Penurunan jumlah sel darah dapat mengakibatkan:

A. Mudah terkena infeksi
Hal ini disebabkan oleh Karena jumlah leokosit turun, karena leokosit adalah sel darah yang
berfungsi untuk perlindungan terhadap infeksi. Ada beberapa obat yang bisa meningkatkan
jumlah leokosit.

B. Perdarahan
Keping darah (trombosit) berperan pada proses pembekuan darah. Penurunan jumlah
trombosit mengakibatkan perdarahan sulit berhenti, lebam, bercak merah di kulit.

C. Anemia
Anemia adalah penurunan jumlah sel darah merah yang ditandai oleh penurunan Hb
(hemoglobin). Karena Hb letaknya di dalam sel darah merah. Akibat anemia adalah seorang
menjadi merasa lemah, mudah lelah dan tampak pucat.

8. Kulit dapat menjadi kering dan berubah warna
Lebih sensitive terhadap matahari.
Kuku tumbuh lebih lambat dan terdapat garis putih melintang.

9. Produksi Hormon
menurunkan nafsu seks dan kesuburan

Setiap obat memiliki efek samping yang berbeda!
Reaksi tiap orang pada tiap siklus juga berbeda!
Tetapi Anda tidak perlu takut. Bersamaan dengan kemoterapi, biasanya dokter memberikan juga obat-obat untuk menekan efek sampingnya seminimal mungkin. Lagi pula semua efek samping itu bersifat sementara. Begitu kemoterapi dihentikan, kondisi Anda akan pulih seperti semula.

Beberapa produk suplemen makanan mengklaim bisa mengurangi efek samping kemoterapi sekaligus membangun kembali kondisi tubuh Anda. Anda bisa menggunakannya, tetapi konsultasikanlah dengan ahlinya, dan sudah tentu dengan dokter Anda juga.
Saat ini, dengan semakin maraknya penggunaan obat-obatan herbal (yang semakin diterima kalangan kedokteran), banyak klinik yang mengaku bisa memberikan kemoterapi herbal yang bebas efek samping. Kalau Anda bermaksud menggunakannya, pastikan yang menangani Anda di klinik tersebut adalah seorang dokter medis. Paling tidak Anda harus berkonsultasi dengan dokter yang merawat Anda, dan lakukan pemeriksaan laboratorium secara teratur untuk memantau hasilnya.


BAB II
Bagian Obat endokrin
2.1
37. Hipothalamik dan Pituitari hormon

Hipothalamus dan glandula pituitari mensintesis bebrapa hormon yang mengatur glandula-glandula dan jaringan di seluruh tubuh kelenjar pituitari terdiri dari lobus anterior (adenohipoisis) dan lobus posterior (neurohipofisis). Sistem vena portal membawa hormon-hormon peptida kecil pengatur dari hipothalamus ke pituitari anterior. Hormon-hormon lobus posterior disintesis ke dalam hipothalamus dan ditranspor melalui serat-serat neurosekretorik dalam batang pituitari ke lobus posterior dan dari tempat tersebut hormon dirilis ke dalam sirkulasi. Perlu diperhatikan bahwa setiap hormon mempunyai target dan merupakan agen endokrin yaitu peptida-peptida.

Aplikasinya dalam 3 hal:
1. Sebagai terapi pengganti untuk keadaan defisiensi hormon
2. terapi obat untuk berbagai gangguan –gangguan dengan menggunakan dosis farmakologi untuk memperoleh efek hormonal yang terjadi pada kadar darah fisiologis
3. sebagai alat diagnostik untuk melakukan uji-uji simulasi untuk menegakkan diagnosis hipo atau hiperfungsi endokrin
Hypothalamus dan kelenjar pituitari pada umumnya mensintesis hormon dan meregulasi kelenjar lainnya dan jaringan ke tuuh.

Hormon-hormon hypothalamus yaitu GRH menghasilkan peningkatan hormon pertumbuhan di plasma dengan cepat secara klinis mencari penyebab dari defisiensi hormon pertumbuhan.

Somatostatin dihasilkan pankreas dan GI sistem seperti halnya CNS menghambat pelepasan thyrotropin, glukagon hormon insulin dan gastrin klinisnya adalah ocreotide (sintesis somatostatin) bermanfaat pada acromegali, carcinoid, gastrinoma glucagonoma dan tumor endokrin.

TRH
Fungsinya merangsang pelepasan thyrotropin dari pituitari anterior dan peningkatan produksi prolactin tetapi tidak mempunyai efek pada pelepasan GH atau ACTH, scara klinis diagnostik uji coba pada disfungsi thyroid.

Gonadotropin releasing hormone.
Digunakan untuk diagnosa dan pengobatan hypogonadal pada pasien wanita dan laki-laki leuprolide, nafarelin, gosarelin, buserelin digunakan untuk menekan sekresi gonadotropin pada pasien dengan carcinoma prostat, gonadal steroid sensitive tumor, endometriosis atau pubertas.

CRH
Merangsang sekresi ACTH dan beta endorphin dari pituitari dengan klinisnya diagnosa pada kelainan sekresi ACTH pada sindroma cushing.

Prolactin inhibiting hormone
-Dopamine adalah penghambatan pelepasan prolactin yang fisiologik tetapi tidak bermanfaat pada pengendalian hiperprolactinemia.
-Bromocriptine dan derivat ergot, efektif mengurangi sekresi prolactin dari kelenjar yang normal seperti halnya dari tumor pituitari

Hormon pituitari anterior
Hormon pertumbuhan (somatotropin)
-biasanya digunakan pada pengobatan defisisensi GH pada anak-anak dan anak-anak perempuan dewasa dengan sindrom tumor.
-peningkatan kegagalan pertumbuhan pada anak-anak yang tumbuh dengan subur dikarenakan gangguan ginjal kronis.

Thyroid stimulating hormone (TSH)
Yaitu meningkatkan pengambilan yodium dan produksi hormon thyroid yang secara klinis untuk diagnostik hypothyroidism.

Adrenocorticotropin
Cosyntropin digunakan untuk tujuan diagnostik pada pasien dengan produksi abnormal coticosteroid.

FSH
Merangsang gametogenesis dan perkembangan folikel pada wanita dan spermatogenesis pada laki-laki. Secara klinis urofolitropin dan follitropin alpha digunakan untuk pengobatan , infertilitas pada wanita dan laki-laki.

LH (Luteinizing hormone)
Merangsang produksi steroid gonadal juga mergulasi perkembangan folikel dan ovulasi , meregulasi produksi hormon testosteron pada laki-laki, penggunaan klinik : terapi untuk hypogonadism dan mengawasi hyperstimulation ovarium.

Menothropin
Adalah hormon menopausal gonadotropin manusia yang terdiri dari FSH dan LH, penggunaan klinis terapi untuk hypogonadism dan mengawasi hyperstimulasi ovarium.

Prolactin
Hormon yang bertangggng jawab pada massa menyusui, tidak digunakan untuk terapi

Posterior pituitari hormon
Oksitosin
Efektif merangsang kontraksi uterus dan digunakn secara IV untuk menginduksi atau memperkuat kontraksi uterus dalam persalinan
Menyebabkan kontraksi otot sel kelenjar susu.

Vasipressin (anti diuretic hormonal ADH)
Bekerja pada reseptor V2 dan meningkatkab sintesis atau penyisipan saluran air oleh mekanisme cAM peningkatan permeabilitas air pada tubulus kolektivus ginjal.
Penggunaan klinis desmopresin yang digunakan pada terapi diabetes insipidus pituitary.

Hormon Hipothalamus dan hormon pituitari anterior
Hormon pengatur hipothalamus adalah hormon yang merilis hormon GHRH, Hormon penghamat hrmon pertumbuhan (somatostatin), TRH hormon perilis corticotropin (CRH), hormon perilis gonadotropin (Gnrh) hormon perilis Luteinisasi (LHRH) dan penghambat prolaktine (dopamine)

Hormon pituitari anterior adalah hormon pertumbuhan (GH), thyrotropin (TSH), hormon perangsang folikel (FSH),hormon luteinisasi, prolactin PRL dan adrenocorticotropin (ACTH). Peptide lain alpha lipoprotein atau alpha LPH asal dari prohormon, pro opiometanocortin, ACTH.

Alpha LPH disekresi dari pituitari tetapi fungsi hormonalnya tidak diketahui. Hormon tersebut merupakan prekursor dari peptide opioid endorphin alpha.

Mekanisme kerja hormon
Hormon-hormon hipothalamus dan pituitari merupakan peptide efeknya terjadi dengan cara mengadakan ikatan pada reseptor di permukaan membran sel target dengan spesifitas dan afinitas yang tinggi.

GHRH somatostatin, TRH, TSH,CRH, ACTH, GNRH, FSH, LH dan dopamine.

Reseptornya adalah peptida, serpentine (domain & trans membran)
Tiap hormon bekerja sebagai suatu ligan dalm kantong reseptor induksi aktivasi perubahan penyesuaian di dalam reseptor.

Perubahan penyesuaian di dalam lengkung ketiga intraseluler reseptor dan ekor terminal karboksil reseptor mengaktifkan suatu protein G, intraseluler yang berdekatan.

Protein G14 dengan reseptor untuk GnRH dan TRH G1 dengan reseptor dopamine dan protein G5.

A. GHRH, CRH, GNRH,TSH, ACTH, FSH, LH dan dopamine.

G-GTP berhubungan dengan reseptor adenylyl cyclase, seintesis pembawa pesan kedua cAMP aktikan protein kinase, fosforilasi protein intraseluler tertentu menghasilkan efek hormonal. Dopamine mengikat reseptor-reseptor lactotroph menyebabkan perubahan penyesuaian dalam protein G1 sehingga aktivitas adenylyl cyclase dan menghambat sekresi prolactin.
B. Somatostatin
Kompleks alpha GTP berhubungan dengan reseptor somatostatin ada efek pada kanal kalium meghambat sekresi GH.
C.TRH
Kompleks protein G berhubungan dengan reseptor TRH Throtrophin mempengaruhi phospholipase C spesifik yaitu phosphomostide meningkatkan kalsium bebas sitoplasma intraseluler stimulasi sekresi TSH.

Hormon pertumbuhan (GH) dan prolactin
Reseptor untuk GH dan prl terdiri dari peptide tunggal serupa mempunyai dominan atau ramah ikatan hormon pada amno terminal ekstraseluler, kedua reseptor menembus membran sel karboksil terminal intraseluler aktifkan thyrosine kinase JAK 2, Fosforilasi pada thyrosine dari protein intraseluler dan pengaturan gen.
Fragmendari reseptor GH beredar dalam plasma dari hormon pertumbuhan di sirkulasi.

Hormon Hipothalamus
A. GHRH mengandung beberapa peptida-peptida luas dengan aktivitas GHRH, dua peptida sintetik pendek dengan aktivitas yang sama dapa digunakan untuk kepentingan klinik pada individu yang normal mereka memproduksi pertambahan yang cepat pada pertumbuhan plasma. Secara primer digunakan untuk menentukan penyebab dari kekurangan pertumbuhan hormone.

B. Somatostatin

Adalah 14 amino acid peptida yang ditemukan pada pancreas dan bagian lain dari gastrointestinal sistem sebagai CNS. Penambahan untuk menghambat pelepasan dari hormon pertumbuhan , somatostatin menghambat pelepasan dari thyrotropin , glukagon, insulin dan gastrin. Somatostatin adalah harga klinik karena pendeknya durasi dari aksi ditemukan sngat berguna pada pengaturan dari akromegali, leukemia, gastrinoma, lukagonoma dan tumor endokrin lain. Ocreotid yang regular dapat diadministrasikan secara subcutan 2 sampai 4 waktu sehari. Uraian singkat dari ocreotid yang regular sudah didemonstrasikan untuk efektif dan ditoleransikan sebagai pelepasan pendek intramuscular farmasi yang diadministrasikan setiap 4 minggu untuk terapi yang panjang.
C TRH
TRH adalah sebuah tripeptide yang menstimulasi pelepasan thyrotropin dari anterior pituitari. TRH juga bertambah prolactin produksinya tetapi tidak ada efek pada pelepasan hormon pertumbuhan ACTH.

D.CRH Ini adalah 41 asama amino peptida menstimulasi sekresi dari dua ACTH dan beta endorphin dari ptuitar (sangat berhubungan dengan peptida) CRH dapat digunakan untuk mendiagnosa abnormalitas dari ACTH sekresi karena ACTH sekresi oleh pituitary tumor (misalnya paru-paru) jarangnya pertambahan pada respon untuk menstimulasi oleh CRH mengingat sekresi dengan pituitari pada penyakit cushing dengan konsistensi bertambah setelah CRH stimulasi.
E. GnRH atau LHRH: GnRH adalah 5 peptida leuprolide adalah sebuah sintesis nonapeptida dengan aktivitas yang similar. Ketika diberi pada dosis yang tepat (Menyerupai roda fisiologik) beberapa agen menstimulasi pelepasan gonadotrophin mempunyai dosis yang tetap menyebabkan sebuah tanda inhibisi dari pelepasan gonadotrophin pada efeknya dari sebuah medical kastrasi. GNRH digunakan pada diagnosis dan pengobatan (dengan administrasi dari dosis yang tetap) pada pasien dengan prostatic carsinoma atau gonadal lain steroid-steroid tumor. Endometriosis atau menjadi dewasa sebelum waktunya GnRH agonisnya adalah digunakan untuk menekan endogenous gonadotropin pelepasan pada wanita-wanita yang mengalami kontrol ovarian hyperstimulasi dan pada reproduksi technology ganirelix, sebuah GNRH antagonis yang baru digunakanuntuk mencegah pematangan yang banyak dari LH selama pengontrolan dari ovarian hiperstimulasi.

F. Dopamine: Dopamine adalah fisiologik aktivitas dari pelepasan prolactin karena efek perifer dan kebutuhan dari parenteral administrasi dopamine tidak berguna pada pengontrolan dari hyperprolctinemia tetapi tromocriptine dan derivat-derivat cabergoline , pergolide aktif dari ergot lain secara oral adalah efektif pada pengurangan prolactin sekresi dari glandula normal sebagai pituitari tumor.

Anterior pituitari hormon
A. GH (somatotropin)
pada manusia hormon perumbuhan adalah dapat dibentuk dari recombinan technology yaitu somatropin da somatrem (somatotropi dengan sebuah methionine yang luas) Mereka memproduksi penggunaan pada pengobatan dan pengurangan GH di anak –anak dan orang dewasa. Pengobatan dengan Gh dengan sindrome turner seringnya mengacu untuk bertambahnya aktivitas ari orang dewasa. Pertumbuhan hormon pengobatan juga menambah pertumbuhan pada anak-anak dengan gagalnya perkembanga yang cepat dari gagal ginjal kronik atau HIV infeksi dan mempunyai efikasi pada pengobatan orang dewasa dengan AIDS diasosiasikan dengan pembuangan rekombiant termasuk GH adalah digunakan pada ternak sapi penghasil susu.
B TSH
Pada sel-sel Thyroid peptida ini bertambah iodinenya untuk cepat mengerti dan produksinya dari hormon thyrod TSH sudah dapat digunakan sebagai alat diagnosa untuk membedakan primer dari sekunder hypotyroidism

C.Adencorticotrophin (ACTH) Peptida ini ditentukan dari sebuah prekursor peptida yang luas, proopiomelanocortin. Precursor ini juga merupakan sumber dari melanosit-stimulating hormone. Beta endorphin , dan enkhephalin, cosyntropin, sebuah sintetik analog digunakan untuk mendiagnostic tujuan pada pasien-pasien dengan abormal corticosteroid produksi.
D. folikel-stimulating hormone (FSH). FSH adalah glycoprotein yag menstimulasi gametogenesis dan perkembangan folikel pada wanita dan spermatogenesis pada pria. Yang biasanya digunakan adalah urofollitropin sebuah produk diekstrasikan dari urin post menopausal pada wanita-wanita.
E. Luteinizing hormone (LH)
Lh adalah stimulan umum dari gonadal steroid produksi pada wanita. LH juga meregulasi perkembangan folikel dari ovulasi . Tidak ada perkembangan data karena LH baik digunakan HCG yang mana strukturnya sangat identik juga digunakan dari LH untuk pengobatan dari hypogonadism pada pria dan wanita dan sebagai bagian dari ovarian utuh mengontrol hyperstimulasi dan reproduktif dari program technologi tinggi.
F. menotropin: Menotropin adalah manusia menopausal gonadotropin yang mengandung FSH dan LH dari urine untuk postmenopausal pada wanita-wanita produksinya adalah sering digunakan pada kombinasi dengan manusia chorionic gonadotropin pada pengobatan dari hypogonadal dan sebagai bagian dari ovarian kontrol hyperstimulasi dan reproduktive teknologi program.

G. Prolactin: Prolactin dan sebuah glycoprotein hormon sangat bertanggung jawab untuk tidak digunakan dalam terapi

Hormon pituitari posterior
Dua hormon pituitari posterior diketahui vasopressin dan oxytocin. Hormon ini disintesis di hipothalamus dan kemudian ditranspor ke pituitari posterior , disimpan dan dirilis ke sirkulasi.

Oxytocin adalah hormon peptide yang disekresi oleh pituitari posterior yang menyebabkan ejeksi air pada wanita dalam masa laktasi dirilis selama orgasme seksual. Oksitosin adalah nonapeptida disintesis di sel bodies di paraventricular nucleus dari hipothalamus dan ditransportasikan melalui akson-akson dari beberapa sel-sel ke pituitari posterior dimana peptida dilepaskan ke sirkulasi oksitosin adalah stimulant yang efektif dari kontraksi uterine dan sangat sering digunakan secara intravena dikenali untuk memperkuat kerjanya atau fungsinya karena itu kontraksi dari otot polos di myoephithelial sel dari glandula mammae oksitosin juga dapat digunakan pada masa laktasi.

Vasopressin
Merupakan hormon-hormon peptide yang dirilis oleh pituitari posterior sebagai respon terhadap peningkatan tonisitas plasma atau penurunan tekanan darah vasopressin memiliki sifat antidiuretik dan memberi tekanan terhadap pembuluh darah (Vasopressin). Defisiensi hormon tersebut mengakibatkan diabetes insipidus. Vasopressin disintesis di nucleus supraoptic di hypothalamus dn dilepaskan dari posterior pituitari. Vasopressin pada V2 reseptor dan bertambah disintesis atau diinsisi dari channel air dengan a camp dependent mekanisme dihasilkan padapertambahan pada air permeabilitas di collecting tubula ginjal. Penambahan dari permeabilitas air membolehkan reabsorbsi air ke hipertonik papilla ginjal. Demikianlah penyebab dari antidiuretik efek. Vasopressin juga mengakibatkan kontraksi otot polos (aV1 efek) desmopression sebuah selektif agonis dari V2 reseptor digunakan pada penggunaan dari pituitari diabetes insipidus, dosis yang perlu diketahui adalah:
A. Aqueous Vasopressin: Vasopressin Aqueous sintesis merupakan suatu bentuk sediaan dengan masa kerja pendek untuk pemberian intramuskuler, subkutan atau intravena.
B. Desmopressin Acetate adalah sediaan tersebut merupakan pengobatan yang disukai bagi sebagian besar pasien dengan diabetes insipidus sentral.


2.2
38. Obat-obat tiroid dan anti tiroid

Anatominya yang menonjol kelenjar tiroid merupakan satu dari kelenjar-kelenjar endokrin yang dihubungkan dengan keadaan yang disebabkan oleh malfungsinya kelenjar tersebut merilis 2 jenis hormon yang sangat berbeda, thyroxin dan triiodothyronine penting bagi pertumbuhan perkembangan dan pengaturan metabolisme energi calsitonin. Jenis kedua dari hormon-hormon tiroid merupakan hormon penting untuk pengaturan metabolisme kalsium, secara normal mensekresi hormon tiroid dalam jumlah cukup triiodothyronine (T3) dan Tetraiodothyronine (T4 Thyroxine) Untuk mempertahankan pertumbuhan dan perkembangan normal, suhu tubuh normal dan tingkat energi normal, hormon tersebut iodine adalah bagian penting molekulnya.

Thyroid dan obat antithyroid
Thyroid mensekresi 2 jenis hormon
1. Hormon med yodium thyroxine T4 dan Triidothyronine (T3)
2. suatu peptida (calcitonin)

Yodium penting bagi sintesis hormon thyroid dan sangat tinggi konsentrasinya pada glandula thyroid setelah pelepasan dari kelenjar T3 dan T4 mengikat globulin (suatu protein pengangkutan dalam darah.

Efek H. thyroid adalah sistem pertumbuhan normal perkembangan syaraf , alat gerak dan sistem reproduksi mengontrol metabolisme lemak, kh, protein dan vitamin.
Kegunaan klinik
Hypothyroidism biasanya diberikan T4 sintetik (levotiroksin)
Pemberian T3 (liotironin) mempunyai efek yang lebih cepat dan waktu paruh yang lebih cepat dan waktu paruh yang pendek namun lebih mahal.

Toksisitas
Tirotoksisitas
Pada pasien lansia dengan penyakit kardiovaskuler dan dengan hipertiroid yang lama lebih sensitive terhadap efek stimulasi T4 pada jantung sehingga perlu diberikan dengan dosis awal yang rendah.

Obat anthithyroid
1. Thioamides
-propitiourasil (PTU) dan methimazole menghambat produksi hormon thyroid
-Menghalangi iodinasi residu tyrosine thyroglobulin
-memblok penggabungan DIT (diidotyrosin) dan MIT (monoiodotyrosin)
-Digunakan secara oral
-efektif pada pasien dengan hyperthyroidism yang tidak disertai komplikasi
-efek toksik : kerusakan kulit, vasculitis, hyperprothrombinemia dan agranulocytosis.
2. garam iodide dan yodium
- menghalangi iodinator tyrosine dan pelepasan hormon thyroid
- memperkecil ukuran dan vascularisasi glandula thyroid hiperplastik
-onsetnya cepat
-Digunakan pada terapi thyrotoxicosis
- diberikan pada persiapan pasien yang akan menjalani operasi reseksi thyroid yang hiperplastik.

3.Yodium radioaktif
–Yodium radioaktif yang diberikan dapat terpusat pada glandula thyroid sehingga dosis besar sekalipun tidak akan membahayakan jaringan sekitar
–menghasilkan pengobatan permanen pada thyrotoxicosis tanpa pemedahan
–tidak dapat digunakan pada wanita hamil.

4.Media radiokontras teriodinasi
-Efektif mensupresi pengubahan T4 ke T3 via 5 deidinase d hati, ginjal dan jaringan perifer.
-Menghambat pelepasan H. Thyroid
_Bermanfaat mengurangi konsentrasi T3 dengan cepat pada thyroxicosis.

5.Obat lain
- beta bloker dan propanolol menghalangi 5 deiodinase
-bermanfaat mengontrol tachycardia dan kelainan yang erhubungan dengan abnormalitas jantung pada thyrotoxicosis berat.

Konsepnya: Thyroid mensekresi 2 tipe dari beberapa hormon, iodine mengandung asam amino thyroxine dan T3 dan peptida (calcitonin). T3 dan T4 mempunyai efek umum pada pertumbuhan perkembangan dan metabolisme calsium dan digambarkan dengan penggunaan obat pada pengobatan dari hypothyroidism dan hypertiroidism.

Thyroid hormon
A. Sintesis dan transpor dari tiroid hormon, tiroid mensekresi 2 iodine mengandung hormon-hormon T3 dan T4. Iodine penting untuk sintesis dari molekul-molekul ini yang diambil dari T3 dan T4, iodine sering untuk sintesis pengambilannya adalah sebuah proses aktif dan iodide ion adalah konsentrasi yang tinggi di glandula thyroid. Residu dari tirosin adalah protein, thyroglobulin adalah iodin di glandula untuk membentuk monoiodotyrosine (MIT) atau diiodotirosin (DIT), Thyroxine (T4) dibentuk dari kombinasi 2 molekul dari DIT, ketika T3 mengandung satu molekul MIT dan satu dari DIT. Banyak T3 dilepaskan dari tiroid tetapi banyak sirkulasi T3 dibentuk dengan deiodinasi dari T4 di jaringan-jaringan, setelah dilepaskan dari glandula-glandula semuanya T3 dan T4 digabung pada tiroxin gabungan globulin, sebuah transport protein di dalam darah.

Tiroid fungsinya mengontrol pituitari melewati pelepasan dari TSH dan dengan iodida. Tingginya level dari tiroid hormon mencegah pelepasan dari TSH menghasilkan sebuah efek negatif berupa mekanisme umpan balik. Pada penyakit graves limfosit melepaskan sebuah tiroid stimulating immunoglobulin (TSI juga disebut TSH reseptor stimulasi antibodi) karena tirotoxicosis. Sepanjang limfosit-limfosit tidak mudah berubah pada negatif umpan balik, konsentrasi darah dari tiroid hormon dapat menjadi tinggi, iodide konsentrasi lebih tinggi dibandingkan dari normal mencegah iodinasi dari tirosin sebuah efek yang sangat berguna pada pengobatan dari penyakit tiroid, ketidakcukupan dari pengambilan iodine dalam pembesaran dari tiroid (goiter) .

B. mekanisme aksi dari tiroxin dan triiodotironin
T3 adalah 10 waktu lebih potensial daripada T4, selama T4 dibagikan ke T3 di sel target, di hati dan di ginjal. Lebih efektif dari sirkulasi T4 yang mungkin disebabkan oleh T3.
Tiroid hormon menggabungkan pada reseptor di nukleus yang mengontrol ekspresi dari gen-gen yang bertanggung jawab untuk banyak metabolik proses T3 reseptor berada 2 bentuk monomerik alpha dan beta ketika diaktivasi oleh T3, alpha dan beta monomeis menggabungkan ke dalam bentuk alpha alpha, beta beta atau alpha beta dimers. T3 ini diaktivkan dimer menggabungkan DNA yang merespon elemen dan mengontrol sintesis dari RNA yang mana mengkode spesifik protein yang berfungsi sebagai aksi daripada hormon Thyroid.

Protein disintesis dibawah T3 untuk mengontrol perbedaan dalam menggantungkan pada jaringan yang termasuk padanya. Protein-protein termasuk Na, K, ATP ase spesifik kontraktil protein pada otot polos dan pada hati enzim termasuk pada metabolisme lemak sangat penting untuk perkembangan komponen pada otak, etc
Enzim termasuk pada metabolisme lemak sangat penting pada T3 boleh mempunyai bagian membran reseptor yang mempengaruhi pada jaringan.

1. Efek dari tiroid hormon
Organ level aksinya dari obat tiroid termasuk pertumbuhan normal dan perkembangan dari nevus, skeletal dan reproduktif sistem dan mengontrol metabolisme lemak , karbohidrat, protein-protein dan vitamin-vitamin. Hasil dari aktivitas thyroid yang berlebihan (Thyrotoxicosis) dan hypotiroidism (myxedema) dapat dilihat pada tabel.

2. Penggunaan klinik
Thyroid hormon terapi dapat pandai dengan thyroxine atau T4. Sintetik T4 adalah bentuk dari pemilihan pada beberapa kasus T3 adalah aksi yang lebih cepat tetapi mempunyai waktu separuh yang pendek dan lebih mahal.

3. Toksisitas
Keracunan adalah thyrotoxicosis pasien yang lebih tua itu dengan penyakit jantung dan hypotiroidism adalah lebih tinggi sensitivitasnya pada stimulasi efek dari T4 pada hati. Beberapa pasien harus menerima initial dosis yang rendah dari T4

Antithyroid Obat:
A. Thioamida: PTU dan methimazole adalah pendek untuk sulfur mengandung molekul-molekul yang mencegah hormon thyroid produksi oleh beberapa mekaisme efek yang penting adalah efek untuk memblok iodinase dari tirosin residu pada thyroglobulin penambahan beberapa obat dapat memblok 2 DIT dan MIT thioamida dapat digunakan oleh rute oral dan efektifitas pada kebanyakan pasien-pasien dengan tidak komplikasinya hyperthyroidism. Sejak sintesis dari tiroid hormon lebih dari pelepasan yang dihambat. Onset dari aktivitas oleh obat-obat biasanya pendek sering dibutuhkan 3-4 minggu untuk efek maksimal. Tingginya PTU dosis, mengkonversi T4 ke T3. PTU adalah mudah daripada methimazole untuk menyebrang ke placenta dan memasuki fase persusuan tetapi itu dapat digunakan secara berhati-hati pada wanita hamil dan suster wanita. Efek beracun termasuk ruam-ruam kulit biasa dan reaksi imun yang akut misalnya vaskulitis hypoprothrombinemia dan agranulositosis efek-efek itu sangat reversibel.
B. Garam iodida dan iodine
Garam iodida mencegah organifikasi (iodinasi dari tirosin) dan tiroid hormon melepaskan garam-garam ini juga berkurang ukuran dan vaskularnya dari hiperplastik thyroid glandula lepas dari iodida memblok setelah beberapa minggu untuk pengobatan garam iodida digunakan untuk pengaturan dari banyaknya thyroid akut thyrotoksikosis dan untuk mempersiapkan pasien untuk pembedahan reseksi dari hiperaktif thyroid. Bentuk yang umum dari obat ini adalah lugol solusi (iodin dan potassium iodine) dan yang tersaturasi solusi dari potassium iodida.

C. Radioactive iodine
Radioactive iodine diambil dan dikonsentrasikan pada thyroid glandula yang dosisnya luas cukup untuk kerusakan akut dari glandula boleh diberikan tanpa membahayakan jaringan lain. Tidak seperti thioamida dan iodida garam sebuah dosis efektif dari iodida dapat memproduksi sebuah pengobatan permanen dari thyrotoksikosis tanpa pembedahan iodida boleh digunakan pada wanita hamil atau suster wanita.

D. Iodinasi radiokontras yaitu media iodinasi tertentu radiokontras media (misalnya ipodate) sangat efektif dalam mensupresi konversi dari T4 ke T3 via 5 deidinase pada hati ginjal, jaringan tepi pelepasan dari hormon thyroid boleh juga mengambil bagian ipodate telah terbukti sangat berguna pada pengurangan T3 secara cepat pada konsentrasi di thyrotoksikosis.

E. Obat-obat lain: agen lain digunakan pada pengobatan thyrotoksikosis termasuk beta bloker propanolol juga mencegah 5 deiodinase agen-agen itu sangat berguna untuk mengontrol tachicardia dan kelainan jantung lainnya dari thyrotoksikosis akut.

Adrenocorticosteroid dan antagonist adrenocortikal.

Hormon-hormon adrenokortikal merupakan molekul-molekul steroid yang dihasilkan dan dirilis oleh korteks adrenal baik corticosteroid alami dan sintesis digunakan untuk menegakkan diagnosis dan pengobatan gangguan fungsi adrenal keduanya juga digunakan lebih sering dan dalam dosis yang lebih besar untuk pengobatan beragam gangguan inflamasi dan imunologis.

Sekresi steroid adrenokortikal dikontrol oleh corticotropin dari pituitari (ACTH). Sekresi hormon aldosteron yang dapat menyebabkan retensi garam dipengaruhi pula oleh angiotensin. Corticotropin memiliki beberapa efek yang tidak tergantung pada efeknya terhadap sekresi adrenokortikal meskipun demikian nilai farmakologinya corticotropin sebagai anti inflamasi dan kegunaannya pada pemeriksaan fungsi adrenal tergantung pada efek sekresinya.

Corticosteroid dan antagonisnya pada corticosteroid terdiri dari hormon steroid yang diproduksi dengan korteks adrenal. Mereka mengandung 2 fungsi fisiologik grup yaitu glukokortikoid dan mineralokortikoid.

Glukokortikoid mempunyai efek yang penting pada metabolisme, katabolisme, imun respon dan inflamasi.

Metabolit efek
Menstimulasi glukoneogenesis mensintesis lipolisis dan lipogenesis dengan pertambahan bersih pada lemak deposisi di are tertentu pada wajah-wajah yang berbentuk bulat seperti bulan dan bongkol kerbau.

Katabolisme efek
Menyebabkan protein dan katabolisme yang efeknya katabolik pada tulang dapat menuju pada osteoporosis pertumbuhan yang terhambat pada anak.

Glukokortikoid
Immunosupresi efeknya untuk menghambat mekanisme pada sel bermedian fungsi immunologik agen-agen ini sangat aktif dan lymphotoksik.

Antiinflamatori efeknya
Berefek pada distribusi dan fungsi dari leukosit, pertambahan neutrofil dan pengurangan dari limfosit, eosinophil, basophil dan monosit mencegah migrasi dari leukosit.

Efek lainnya
Pada dosis yang luas mengakibatkan perubahan sifat menstimulasi asam lambung sekresi dan pengurangan resistensi pada ulcerasi inflamasi.

Cortisol (hidrocortisone)
Fisiologi sekresi diregulasikan dengan adrenocorticotropin (ACTH) mempunyai efek mineralocorticoid yang pendek tetapi penting pada penahanan garam.

Sintetik glukokorticoid
-termasuk prednisone, prednisone , dexamethasone dan triamnolone.
-mempunyai waktu separuh dan durasi dari aksi untuk mengurangi penahanan garam berefek dan baik pada lemak membawa untuk aktivitas topikal.
-permukaan baik aktivitasnya pada membran mukosa atau kulit.
Eclomethasone dan budesonide mempenetrasi jalannya permukaan mukosa dan mempunyai rantai pendek.

Penggunaan klinis
Kelainan adrenal sangat penting untuk menjaga kondisi kehidupan pasien dengan kekurangan adrenal cortical yaitu penyakit addison
Akut adrenal insufisiensi berhubungan dengan pengobatan hidup dalam syok, infeksi dan trauma.

Nonadrenal disorder
- inflamasi atau immunologik pada alam misalnya asthma, transplantasi organ rejeksi, penyakit kolagen
- pengobatan dari kemoterapi pada muntah-muntah, hipercalcemia dan banyak penyakit.
- Diberikan pada wanita hamil di para pekerja untuk maturasi yang cepat dari paru-paru bayi.



Toksisitas:
-Adrenal supresi (dari supresi ACTH sekresi) efek metabolik (pertumbuhan inhibisi, diabetes, otot-otot, osteoporosis) Penggunaan garam dan psikosis. Metoda dari meminimalisasikan keracunan, keracunan ini termasuk aplikasi lokal (aerosol untuk asthma) terapi alternatif untuk mengurangi supresi dari pituitari dan dosis segera setelah memperoleh sebuah respon terapeutik untuk mencegah insufisiensi adrenal pada pasien siapa yang mempunyai terapi yang panjang pada penambahan dari dosis stress boleh digunakan untuk diberi selama sakit yang serius atau sebelum pembedahan umum. Pasien-pasien yang dibentuk dari glukokorticoids setelah perpanjangan penggunaan boleh mempunyai dosis yang meruncing secara pendek sepanjang jalan dari beberapa bulan untuk mengijinkan penyembuhan dari normal fungsi adrenal.

Mineralocorticoids
1. Aldosterone : Mineralocorticoid pada manusia yang umum adalah aldosterone yang mana sudah disebutkan pada koneksi dengan hipertensi dan dikontrol dari sekresinya dengan angiotensin 2. sekresi dari aldosterone diregulasikan dengan ACTH dan dengan renin angiotensin sistem sangat penting pada regulasi dari volume darah dan tekanan darah aldosterone mempnyai waktu separuh yang pendek dan glukokorticoid waktu separuh yang pendek dan glukokorticoid yang kecil aktivitasnya dan glukokorticoid yang kecil aktivitasnya dan mekanisme aksi adalah sama bahwa itu adalah glukokorticoids.
2. Mineralocorticoids yang lain: mineralocorticoid yang lain termasuk deoxycorticosterone secara natural merupakan prekursor dari aldosterone dan fluodrocortisone yang belakangan mempunyai glukokorticoid aktivitas karena merupakan durasi yang panjang dari aksi fludrocortisone sangat disukai untuk terapi pemindahan setelah adrenalectone dan pada kondisi yang lain yang mana mineralocorticoid tetapi dibutuhkan.

Corticosteroid antagonist
A. reseptor antagonist: spironolaktone seuah antagonis dari aldosterone dan reseptornya mifepristone adalah sebuah inhibitor glukokorticoid reseptor sebagai progesterone reseptor dan digunakan untuk pengobatan dari sindrom cushing
B. Sintesis inhibitor beberapa obat digunakan untuk membentuk kanker adrenal ketika terapi bedah tidak praktis atau tidak berguna karena mensintase yang paling penting dari oat ini adalah aminoglutethimide metirapone dan ketoconazole.
Ketoconazole (sebuah obat anti jamur) menccegah P450 enzim sangat penting untuk sintesis dari banyak steroid dan digunakan sebagai kondisi yang dapat diperhitungkan yang mana pengurangan dari level steroid diinginkan misalnya adrenal karsinoma kanker payudara amino gluthethimide memblok konversi dari kolesterol untuk pregnolone dan juga mencegah sintesis dari seluruh hormon steroid yang aktif. Dapat digunakan pada konjugasi dengan obat lain untuk pengobatan dari steroid memproduksi adrenocortical kanker metyrapone mencegah normal sintesis dari cortisol tetapi tidak prikursor cortisol. Obat ini dapat digunakan pada tes diagnostik dari fungsi adrenal.


2.3
39 Korticosteroid dan antagonisnya
Konsep Kortikosteroid adalah steroidal hormon yang memproduksi oleh adrenal korteks. Mereka mengandung 2 fungsi fisiologik dan farmakologik grup yaitu glukokortikoid yang mana sangat penting efeknya secara intermediari metabolisme, katabolisme, imun respon, dan inflamasi, mineralokortikoid yang meregulasi sodium dan potassium raebsorbsi pada duktus kolektivus di ginjal.

Glukokortikoid
A. Mekanisme aksinya : korticosteroid memasuki sel dan menggabungkan pada sitosolik reseptor yang mentranspor steroid ke nucleus.
B. Organ dan jaringan berefek
1. metabolisme efek: glukokortikoid menstimulasi glukoneogenesis
2. katabolik efek: pada otot menyebabkan katabolisme protein
3. immunosupresive efek: glukokortikoid mencegah inhibisi pada kebanyakan mekanisme yang termasuk sel mediasi fungsi imunologik terutama apa yang bergantung pada limfosit.
4. anti inflamatory efek: glukokortikoid mempunyai dramatik efek dan didistribusikan pada fungsi dari lekosit.
5. efek yang lain: glukokortikoid seperti cortisol dibutuhkan pada renal ekskresi dari waterloads dan berefek pada CNS. \

C. Glukokortikoids penting
1. kortisol: fungsi umum dari glukokortikoid adalah kortisol (hydrocortisone)
2. sintetik glukokortikoid: adalah mekanisme aksi dari beberapa agen yang sangat identik dengan kortisol yaitu beclomethasone dan budenisone

D. penggunaan klinik
1. Kelainan adrenal: Glukokortikoid sangat penting untuk menyelamatkan hidup pada pasien dengan kronik adrenal kortikal insufisiensi (addison disease) dan sangat penting pada akut adrenal insufisiensi yang berhubungan dengan penyelamatan hidup pada syok, infeksi dan trauma.
2. kelainan nonadrenal: banyak kelainan merespon pada terapi kortikosteroid.

E. toksisitas: kebanyakan toksik efek pada glukokortikoid adalah dapat diprediksi dari efek-efek yang sudah dijelaskan.

Mineralokortikoids
A. Aldosterone: fungsi umum dari mineralocorticoid pada manusia adalah aldosterone yang mana disebutkan dengan hipertensi dan kontrol dari sekresi dengan angiotensin II
B. Mineralokortikoid yang lain: Mineralokortikoid termasuk deoxycorticosterone yang secara natural terdapat pada prekursor aldosterone dan fludrokortison

Kortikosteroid dan antagonis
A. Reseptor antagonis adalah spironolaktone dan mifepristone
B. Sintesis inhibitornya: beberapa obat yang digunakan pada pengobatan dari adrenal kankerketika mengalami pembedahan terapi sangat impractical atau tidak sukses karena metastase yang paling penting dari beberapa obat ini adalah aminoglutethimide, metyrapone dan ketokonazole.










2.4
40 Hormon gonad dan inhibitor-inhibitor

Ovarium memiliki fungsi-fungsi gamet yang penting yng teintegrasi dengan aktivitas hormonalnya dalam tubuh wanita gonad relatif tidak aktif selama masa pertumbuhan dan proses maturasi yang berlangsung dengan cepat pada masa puber ovarium mulai berperanan pada fungsi siklus yang berlangsung selama 30 sampai 40 tahun yang disebut siklus menstruasi karena terjadi masa perdarahan teratur yang merupakan manifestasi paling nyata ovarium berhenti merespon gonadotropin yang disekresi oleh glandula pituitari anterior yang disekresi oleh glandula pituitari anterior yang menyebabkan berhentinya siklus perdarahan yang disebut dengan menopause.
Mekanisme yang bertanggung jawab dimulai dengan fungsi ovarium pada saat puber diperkirakan berasal dari mekanisme mental karena kelenjar gonad yang belum matang dapat dirangsang oleh gonadotropin yang sudah ada dalam pituitari dan karena pituitari responsif terhadap hormon perilis gonadotropin (GnRH) dari hipotalamus.
Maturasi pada pusat-pusat di dalam otak dapat menarik hambatan pada sel-sel di bagian tonjolan tengah dari hipotalamus yang menyebabkan sel-sel itu menghasilkan GnRH secara berdenyut dengan amplitudo yang sesuai yang merangsang rilis hormon FSH dan LH. Mula-mula sejumlah kecil dari kedua hormon yang terakhir dirilis dan menyebabkan estrogen dari ovarium dalam jumlah terbatas, disekresi untuk memulai pertumbuhan payudara, perubahan distribusi lemak dan puncak pertumbuhan yang diakhiri dengan penutupan efipise pada tulang-tulang panjang permulaan fungsi ovarium pada masa puber disebut gonaddarche.
Setelah gonadarche estrogen diproduksi secukupnya untuk menginduksi perubahan-perubahan endometrium dan perdarahan setelah beberapa siklus dapat bersifat anovulasi maka akan terbentuk fungsi siklus yang normal.

Pada permulaan setiap siklus banyak folikel-folikel yang masing-masing mengandung ovum dan mulai membesar sebagai respon terhadap FSH setelah 5 atau 6 hari satu folikel yang disebut folikel dominan mulai berkembang lebih cepat. Sel-sel Theca yang berada di luar dan sel-sel yang berada di dalam dari folikel ini akan berlipat ganda dan karena pengaruh LH akan mensintesis dan merilis estrogen dalam jumlah yang makin banyak. Estrogen ini tampaknya akan menghambat sekresi FSH dan mungkin menyebabkan regresi dari folikel-folikel yang lebih kecil dan belum matang . Folikel ovarium dominan yang sudah matang mengandung sebuah ovum yang dikelilingi oleh garis antrum yang berisi cairan yang dilapisi oleh sel-sel granulosa dan sel-sel theca. Sekresi estrogen mencapai puncaknya sebelum pertengahan siklus dan sel-sel granulosa mulai mensekresi progesterone perubaha-perubahan ini merangsang rilis LH dan FSH yang menyebabkan ovulasi ketika folikel pecah, ovum tersebut dikeluarkan ke dalam rongga perut dekat pembukaan tuba uterus.

Setelah terjadi peristiwa diatas, rongga folikel yang pecah tersebut akan diisi oleh darah dan sel-sel theca dan granulosa akan mengalami proliferasi dan menggantikan darah membentuk korpus luteum, sel-sel struktur ini menghasilkan estrogen dan progesterone selama sisa siklus atau lebih lama lagi jika terjadi kehamilan. Jika tidak terjadi kehamilan, corpus luteum mulai mengalami degenerasi dan menghentikan produksi hormon yang akhirnya menjadi corpus luteum. Kebanyakan peristiwa hormonal lain yang terjadi selama siklus ovarium nor
Mal dapat dijelaskan berdasarkan regulasi mekanisme umpan balik. Endometrium yang berkembang selama fase follikuler dan mengembangkan struktur dan fungsi glandula selama fase luteal dikeluarkan dalam proses menstruasi.

Ovarium biasanya menghentikan fungsi gametogenik dan endokrinnya. Perubahan ini disertai dengan berhentinya perdarahan uterus (menopause) meskipun ovarium berhenti mensekresi estrogen kadar estrogen yang signifikasi tetap ada pada kebanyakan wanita sebagai akibat darikonversi adrenal dan steroid ovarium seperti androstenedione menjadi estrone dan estradiol dalam adipose dan mungkin juga pada jaringan nonendokrin lainnya.

Gangguan-gangguan fungsi ovarium
Gangguan fungsi siklus sering terjadi bahkan selama masa-masa puncak reproduksi sebagian kecil gangguan ini disebabkan oleh proses inflamasi atau proses neoplastik yang mempengaruhi fungsi-fungsi uterus, ovarium atau pituitari banyak gangguan kecil yang mengakibatkan terjadinya amenorea atau siklus-siklus anovulasi yang akan sembuh sendiri. Gangguan tersebut seringkali dihubungkan dengan tekanan emosional atau tekanan lingkungan dan memperlihatkan adanya perubahan sementara di pusat-pusat stress di dalam otak yang mengatur sekresi GnRH siklus-siklus anovulasi juga dihubungkan dengan gangguan makan danjuga dipengaruhi dengan olahraga berat seperti lari jauh renang di antara penyebab-penyebab organik yang lebih umum bagi terjadinya gangguan ovulasi persisten adalah pituitari prolaktinoma sindroma dan tumor-tumor yang digambarkan oleh produksi androgen ovarium dan androgen yang berleihan fungsi ovarium yang normal dapat diubah oleh androgen, androgen yang diproduki oleh korteks adrenal atau tumor yang tumbuh darinya. Ovarium juga dapat menimbulkan neoplasma penghasil androgen seperti arhenoblastoma dan tumor sel leydig, seperti juga tumor sel granulosa penghasil estrogen.

Konsep hormon gonad termasuk steroid adalah ovarium (estrogen dan progestin) dan testis (testosteron) karena pentingnya mereka untuk kontraceptive, banyak estrogen sintetis dan progestin yang diproduksi. Ini termasuk agonist parsial reseptor antagonis dan banyak obat dengan efek yang tercampur , agonist efeknya di banyak jaringan dan antagonistnya efek di jaringan lain tercampur agonis dengan antagonis dengan efk estrogen disebut SERMs. Sintetik androgen termasuk anabolik aktivitas ini juga dapat digunakan untuk klinik. Sebuah perbandingan grup dari obat dengan antiandrogenik efek digunakan untuk pengobatan dari kanker prostat, prostat jinak pada pria.

Hormon Ovarium
Ovarium adalah sumber primer dari hormon sel pada wanita selama masa kanak-kanan antara pubertas dan menopause ketika diregulasikan dengan FSH dan LH dari pituitari setiap siklus menstruasi mengandung beberapa hal yaitu sebuah folikel pada ovarium dewasa mensekresi pertambahan dari estrogen pelepasan dari ovarium dan ditransformasikan pada progesterone yang mensekresi corpus luteum jika ovum tidak difertilisasikan dan diimplantaskan corpus luteum mendegenerasi, uterine endometrium (yang mana diiproliferasikan dibawah stimulasi dari estrogen dan progesterone) sebagai bagian dari siklus menstruasi dan pengulangan siklus. Mekanisme aksi dari estrigen dan progesterone termasuk pemasukan pada sel-sel digabungkan pada sitosolik rseptor dan translokasi oleh reseptor komplek hormone pada nukleus, dimana itu dimodulasikan sebagai ekspresi gen.
F. estrogen: estrogen yang umum pada wanita disebut estradiol steroid mempunyai bioavaibilitas untuk oral tetapi dapat digunakan untuk mengecilkan bentuk pada penggunaan oral estradiol dapat juga diadministrasikan melalui transdermal, krim vaginal dan ntramuskular injeksion. Penggabungan dikonjugasikan estrogen dari sumber biologik contohnya prematur digunaka secara oral terutama pada hormon theraphy (HRT) sintetik estrogen dengan peninggian bioavaibilitas (ethynil, estradiol, mestranol) digunakan pada kontraseptive oral.

1. Efek-efek yang penting untuk perkembangan wanita normal yang sangat penting untuk pertumbuhan dari struktur genital (vagina, uterus, tuba uterine) selama anak-anak dan untuk penampilan pada sekondari seksual karakteristik dan pertumbuhan untuk mendorong diasosiasikan dengan pubertas. Estrogen mempunyai efek metabolik yang dimodifikasikan melalui protein serum level dan mengurangi resorpsi tulang mempertinggi koagulasi dari darah dan penambahan pada triglicerida plasma level ketika mengurangi LDL cholesterol estrogen juga sangat efektif untuk mmenindas dari kelenjar pituitari FSH.
2. Penggunaan klinis: sebuah penggunaan terapeutik yang penting dari estrogen pada hypogonadism primer pada ovarium muda penggunaan yang lain dari pemindahan terapi hormon pada wanita dengan pengurangan estrogen dikarenakan kegagalan prematur ovarium, manopause atau pemindahan bedah dari ovarium-ovarium HRI menjadi lebih baik semangat dan perubahan atrofik pada traktus urogenitalis. Secara efektif juga pada tulang dan perkembangan dari osteoporosis dan boleh mengurangi kerugian dari arteri koronari, kehilangan dan peyakit alzheimer estrogen sangat penting sebagai komponen dari kontrasepsis oral.
3. Toksisitas
Pada anak perempuan hypogonad, dosis dari estrogen boleh diselesaikan dengan hati-hati untuk mencegah prematur penutupan dari epifise ketika HRT digunakan, penambahan estrogen menambah kerugian dari endometrial kanker. Efek ini dicegah dari penggunaan progestine dosis yang tergantung toksisitas pada muntah-muntah payudara dan penambahan pada migrain thromboembolik (misalnya pembuluh darah vena thrrombosis) penyakit hypertension pada wanita yang menggunakan HRT terutama perdarahan arteriae.

G. Progestine
Progesteron adalah fungsi umum dari progestine pada manusia bentuk yang kecil digunakan secara oral untuk HRT, progesterone mengandung krim vaginal dan juga didapatkan sintetik progestin misalnya medroxyprogesterone dapat digunakan untuk oral bioavaibilitas. Testosterone mengandung perbedaan yang primer pada derajatnya dari efek androgen obat-obatan yang lebih tua (misalnya l-norgestrel dan nonethindione) adalah androgenik lebih baru dari progestine misalnya norgestimate desogestrel.

1. Efeknya progestine menyebabkan perkembangan dari jaringan sekresi pada payudara dan maturasi dari endometrium uterus. Mereka mempunyai efek yang kecil dari estrogen pada plasma proteins dosisnya mencegah produksi dari FSH dan dengan demikian menekan fungsi ovarium.
2. penggunaan klinis: sebuah penggunaan terapeutik dari progestine adalah komponen oral atau kontrasepsi mereka digunakan pada HRT untuk mencegah estrogen dan memasukkan endometrial kanker dosis yang luas dari medroxy progesterone dapat digunakan untuk memproduksi sebuah ovulasi dan amenorrhea pada wanita dengan dysmenorhea, endometriosis atau kelainan perdarahan.
3. Toksisitas: toksisitas pada progestine adalah pendek bagaimanapun mereka oleh bertambah pada tekanan darah dan mengurangi tingginya kepadatan pada plasma lipoprotein (HDL) penggunaan yang panjang digunakan pada dosis yang tinggi diasosiasikan dengan pengurangan berulang pada kepadatan tulang dan menghentikan resums dari ovulasi setelah terminasi terapi.

H. Hormonal kontrasepsi: 3 tipe yang berbeda merupakan tipe dari oral kontrasepsi untuk wanita pada usia, kombinasi estrogen-progestin tablet yang diambil secara konstan pada dosis tablet yang diamil secara konstan pada dosis melalui siklus menstruasi (monophasic preparasi) kombinasi preparasi (phase 2 dan phase 3 ) dimana dosis progestine bangun selama beberapa bulan (menggunakan mimik dari siklus alami dan preparasi digunakan implants yang mencegah konsepsi lebih dari 5 tahunyprogesterone asetat depot injeksi yang memproduksi kontrasepsi aksi untuk kira-kira 3 bulan progestiser adalah alat intrauterin yang disebut IUD yang pelepasannya sangat lambat sepanjang waktu 1 tahun , steroid mensupresi pertumbuhan dari endokrin dan dengan demikian mengurangi perdarahan menstruasi yang mana dapat berat dengan IUD regular. Kontrasepsis postcoital akan mencegah kehamilan jika diadministrasikan selama 72 jam setelah tidak terproteksinya pemanjangan waktu beberapa tipe digunakan termasuk estrogen konjugasi dikombinasikan kontrasepsis (norgestrel dan mifepristone sebuah progesterone antagonist yang digambarkan seperti dibawah ini).

1. Mekanisme aksi: kombinasi obat kontrasepsis oral mempunyai beberapa aksi termasuk inhibisi dari ovulasi (aksi primer) dan efek-efeknya pada tuba uterine dan pengulangan endometrium dari fertilisasi dan implantasi oral progestine hanya agen yang selalu menghamat ovulasi dan boleh aksinya melalui mekanisme lain yang tercatat bagaimanapun melalui mekanisme lain yang tercatat bagaimanapun implantasi dan injeksi progestin hanya kontrasepsis muncul pada aksi melalui inhibisi dari ovulasi. Mekanisme aksi dari postcoital kontrasepsis adalah tidak dapat dimengerti ketika diadministrasikan sebelum LH mereka mencegah ovulasi mereka juga mempengaruhi implantasi dan kemungkinan fertilisasi.
2. Penggunaan klinik dan efek yang bermanfaat kombinasi dari oral kontrasepsis digunakan pada wanita muda dan dengan hypogonadism yang primer setelah mereka tumbuh dan diterima untuk mencegah defisiensi estrogen kombinasi dari kontrasepsis oral dan progestine digunakan untuk mengatasi jerawat, dismenorhea dan endometriosis. Penggunaan kombinasi dari oral kotrasepsis untuk mereduksi penggunaan dari kista ovarian, ovarian dan kanker endometrial penyakit payudara jinak dan pelvis inflamasi sebagai insidensi yang pendek dari kehamilan ektopik defisiensi besi anemia dan RA.
3. Toksisitas Insidensi dari dosis tergantung toksisitasnya yang jatuh selama pengenalan dari dosis rendah dikombinasikan dengan kontrasepsis oral.

a. thromboembolisme: toksisitas yang umum dari efek oral kontrasepsis sangat berhubungan dengan aksi dari koagulasi darah mereka sangat mudah dikombinasikan dengan penambahan pada kerugian dari kegiatan thromboembolisme (myocard infark , stroke , vena , thrombosis yanm pulmonari embolisme pada wanita , pada perokok, pada wanita dengan sendirinya atau sejarah keluarga dengan beberapa problema dan pada wanita dengan defek yang genetik yang berafeksi pada produksi dari fungsi faktor pembekuan bagaimanapun penggunaaan thromboembolisme terjadi dengan penggunaan dari beberapa obat yang biasanya digunakan lebih dari kerugian yang disebabkan oleh kehamilan.
b. Kanker payudara, meskipun pelajaran yang ektensive yang berefek kombinasi dari kontraepsis oral pada kanker payudara masih membingungkan. Bukti-bukti menyebutkan bahwa seumur hidup kanker payudara tidak berubah tetapi itu oleh digunakan sebagai onset awal dari kanker payudara.
c. Toksisitas yang lain, dosis rendah dikombinasikan secara oral dan hanya progestin kontraseptip yang menyebabkan perdarahan yang sangat penting, terutama selama awal dari beberapa bulan terapi. Toksisitas yang lain dari perdarahan kontrasepsis termasuk muntah-muntah kelembutan payudara sakit kepala pigmentasi kulit dan depresi. Preparasi mengandung lebih tua progestin androgenik yang dapat menyebabkan penambahan berat pada jerawat. Dosis yang tinggi dari estrogen pada estrogen mengandung kontraseptive postcoital yang diasosiasikan dengan muntah-muntah.
d. Selektif estrogen reseptor modulator (SERMs) serms dicampur dengan estrogen agonist yang mempunyai etrogen agonist efek pada beberapa jaringan dan dungsikan pada agonist parsial atau antagonist dari estrogen pada jaringan lain.

1. Tamoxifen: Tamoxifen adalah SERM yang sangat efektif pada percoaan dari hormon yang sangat responsive pada kanker payudara. Dimana itu berarti sebuah antagonis untuk mencegah reseptor aktivasi dengan endogenous estrogen prophylactic penggunaan dari tamoxifen mengurangi insidensi dari kanker payudara pada wanita yang mana sangat tinggi mengalami kerugian pada thrombosis vena Tamoxifen mempunyai agonis lebih dari antagonist aksi pada tulang dan itu mencegah osteoporosis pada wanita yang mana mengambil obat dari kanker payudara. Toremifene secara struktural sangat berhubungan dengan tamoxifene dan mempunyai properti, indikasi dan toksisitas.
2. Ralosifene : Raloxifene digunakan untuk prevensi dari osteoporosis pada post menopause pada wanita yang mempunyai agonis parsial efek pada tulang dan penambahan serum HDL seperti tamoxifene mempunyai antagonist efek pada jaringan payudara pada endometrial jaringan efek yang merugikan termasuk gejolak dan penambahan kerugian dari thrombosis vena.

I. Estrogen dan progesterone agonis, antagonist dan inhibitor sintetik.

1. clomiphene : clomiphene digunakan untuk mengurangi ovulasi pada sebuah ovulator wanita yang menginginkan untuk menjadi hamil itu adalah ikatan nonsteroid dengan selektive aksi dari jaringan dengan bloking selektive reseptor pada pituitari clomiphenne mengurangi negatif pengulangan dan penambahan FSH dan pengeluaran LH. Penambahan pada gonadotropin menstimulasi ovulasi.

2. Diethylstillbestrol: DES adalah nonsteroidal yang berkompensasi dengan estrogen agonis aktivitasnya. Itu tidak panjang digunakan secara biasa karena diasosiasikan dengan perkembangan infertilitas, kehamilan ektopik dan vaginal adenocarcinoma pada anak perempuan dari wanita siapa yang digunakan pada dosis yang luas dari DES selama kehamilan.

3. Mifeprositone: Mifepristone adalah secara oral merupakan steroid yang aktif antagonis dari progesterone dan glukokortikoid. Penggunaan dari penggagalan pada kehamilan pertama lebih dari 49 hari setelah menstruasi periode terakhir ketika diberikan periode single dari oral dosis diikuti dengan administrasi dari prostaglandine E atau prostaglandine F dianalogkan dengan presentase yang tinggi dari komplit absorsi yang diterima dengan insidensi yang rendah data toksisitas yang serius.

4. Danazol : danazol adalah bagian dari agonist arsial yang menggabungkan progestine, androgen dan glukokortikoud reseptor pada sel dan pada steroid untuk mentransportasikan protein-protein dalam darah. Danazol juga mencegah beberapa P450 enzim termasuk pada sintesis steroid obat-obat kadang-kadang digunakan pada pengobatan dari endometriosis dan fibrokistik penyakit dari payudara.

5. Aromatase inhibisi
Anastrrozole dan relasi dengan letrozole adalah nonsteroidal inhibisi yaitu aromatase enzim yang dibutuhkan adalah estrogen sintesis. Obat-obat ini digunakan pada percobaan dari kanker payudara .
Androgen
Testosterone dan androgen relasi digunakan pada testis, adrenal dan pada ovarium testosterone disintesis dari progesterone dan dehydroandrosterone (DHEA) pada plasma testosterone sebagai bagian menggabungkan pada hormon sex binding globulin (SHBG) sebuah transpory protein hormon dikonversikan pada beberapa organ (misalnya prostat) pada dyhydrotestosterone yang merupakan hormon aktif pada jaringan itu karena laju metabolisme hepatik, testosterone diberikan pada mulut mempunyai efek yan pendek itu dapat diberikan dengan injeksi atau tambahan transdermal atau secara aktive varian boleh digunakan.
Androgen banyak disintesis pada usaha untuk menambah efek anabolik tanpa penambahan efek anabolik tanpa penambahan pada androgenik aksi oxandrolone dan stanozolol sebagai contoh dari obat-obat itu di laboratorium mempunyai penambahan rasio dari anabolik pada aksi androgenik bagaimanapun seluruhnya disebut anabolik steroid mempunyai androgeik agonist efek ketikadigunakan pada manusia.

A. mekanisme aksi: seperti hormon steroid androgen memasuki sel-sel danmenggantungkan ke reseptor sitosolik. Reseptor hormone yang kompleks memasuki nukleus danmemodulasi ekspresi dari gen tertentu.

B.Efek: testosterone sangat penting untuk perkembangan normal dari bayi laki-laki dan bayi dan ertanggung jawab untuk perubahan umur pada pria dan pubertas (pertumbuhan penis, larynx dan skeleton, perkembangan dari fasial pubik dan bulu ketiak, penggelapan dari kulit perluasan dari masa otot. Setelah pubertas testosterone beraksi untuk menjaga karakteristik sex yang kedua fertilitas danlibido itu juga beraksi pada sel rambut untuk menyebabkan botak pada laki-laki.

Efek yang utama dari hormon androgenik pada perkembangan dan penetapan dari karakteristik laki-laki adalah aksi anabolik yang termasuk penambahan dari produksi sel darah eksresi dari urea nitrogen dikurangi dan keseimbangan nitrogen menjadi lebih positif testosterone juga ada karakteristik seks yang kedua kesuburan dan libido itu juga pada sel-sel rambut yang menyebabkan pola botak pada laki-laki.
Efek utama dari hormon androgen sebagai penambahan pada perkembangan dan keadaan normal dari karakteristik pria adalah aksi anabolik yang terlibat dalam penambahan ukuran otot dan kekuatan dan bertambahnya produksi sel darah merah. Eksresi dari nitrogen urea adalah mengurangi dan nitrogen keseimbangannya menjadi lebih positif testosterone juga menolong untuk menjaga kepadatan tulang normal.
C. Penggunaan klinis: secara primer penggunaan klinis adalah oleh androgen yang merupakan terapi perpindahan pada hypogonadism mereka yang mempunyai juga distimulasikan oleh sel darah produksi pada anemias tertentu dan untuk mempromosikan berat yang bertambah pada pasien dengan sindrome yang terbuang misalnya pada pasien AIDS. Anabolik efeknya sudah dieksploiti dengan gelap oleh atlit untuk menambah beban otot dan kekuatannya dan barangkali penampilan atletik.
D. Toksisita: penggunaan dari androgen oleh wanita menghasilkan urilizasi secara paradok, dosisi yang banyak pada pria menghasilkan pada feminizasi (ginekomastia, testicular penyusutan infertilitas) dikarenakan inhibisi ulang dari pituitari dan bagian untuk mengkonversi dari androgen luar pada estrogen tingginya dosis juga menyebabkan efek yang berhubungan dengan tingkah laku termasuk permusuhan dan agresi, kemarahan sebagai penambahan anrogen menyebabkan penyakit kuning elevasi dari enzim hati , level dan kemungkinan hepatoseluler karsinoma.

Antiandrogen
Reduksi dari efek androgen merupakan mode yang sangat penting dari terapi untuk kedua bentuk yang jinak dan gana dari penyakit prostat. Masa-masa pubertas terlalu cepat menjadi dewasa, kehilangan rambut obat-obat adalah penting yang beraksi pada beberapa tempat yang berbeda pada jalur androgen.

A. reseptor inhibitor: flutamide dan relasi obat-obat adalah nonsteroidal bergabung yang beraksi sebagai kompetitive antagonist pada reseptor androgen. Beberapa obat digunakan untuk mengurangi aksi dari hormon endogen pada kanker prostat. Cyproterone adalah sebuah steroidal dengan aksi yang sama obat-obat harus mempunyai progestational aktivitas yang memproduksi negative ulang pada pituitari itu digunakan pada pengobatan pada wanita. Spironolaktone adalah obat yang digunakan secara prinsip sebagai potassium diuretik, juga mencegah androgen reseptor

2.5
41. Hormon Pankreas, Agen Antidiabetik & Obat Hyperglycemik


Konsep
Islet of Langerhans (pankreas endokrin) paling tidak mengandung empat tipe sel-sel endokrine yang berbeda, yang meliputi sel-sel A (alpha, penghasil-glucagon), B (beta, penghasil-insulin), D (delta, penghasil somatostatin), dan F (FP, penghasil polypeptide pankreas). Dari semua sel-sel ini, sel B (penghasil-insulin) adalah sel yang paling banyak.
Penyakit pankreas yang paling umum membutuhkan terapi farmakologi adalah diabetes mellitus, suatu penyakit defisiensi produksi atau efek insulin. Diabetes ditangani dengan berbagai formulasi insulin dan dengan empat tipe agen antidiabetik. (Gambar 41-1)
Glucagon, hormon yang mempengaruhi liver, sistem kardiovaskuler dan saluran gastrointestinal, dapat dipakai untuk menangani hypoglycemia diabetik yang parah.

Insulin
A. Psioologi : Insulin disintesis sebagai prohormone, proinsulin, polypeptide rantai-tunggal 86-asam-amino. Pembelahan proinsulin dan cross-linking menimbulkan molekul insulin 51-peptide dua-rantai dan C-peptide residu 31-asam-amino. Proinsulin atau C-peptide tampaknya tidak memiliki aksi psiologis.
B. Efek: Insulin mempunyai efek yang sangat penting pada hampir setiap tissu tubuh. Reseptor insulin, kinase tyrosine transmembran, fosforylates sendiri dan berbagai macam protein intrasel bila afktif oleh hormon. Organ sasaran utama aksi insulin meliputi :
1. Liver : Insulin menambah timbunan glukosa sebagai glycogen dalam liver. Ini meliputi sisipan molekul-molekul pengangkut glukosa GLUT 2 tambahan dalam dinding sel, naiknya sintesis kinase pyruvates enzim, fosfofruktokinase, dan glukokinase, serta supressi beberapa enzim lain. Insulin juga mengurangi katabolisme protein.
2. Otot : Insulin merangsang sintesis glycogen dan sintesis protein. Pengangkutan glukosa kedalam sel-sel otot difasilitasi oleh sisipan molekul-molekul pengangkutan GLUT 4 kedalam dinding-dinding sel.
3. Tissu adipase: Insulin memfasilitasi timbunan (storage) triglyceride dengan aktivasi plasma lipoprotein lipase, dengan peningkatan pengangkutan glukosa kedalam sel via pengangkut GLUT 4, dan dengan pengurangan lipolysis intrasel.
C. Tipe Insulin yang Tersedia: Insulin manusia diproduksi dengan teknologi recombinant bakterial DNA. Insulin porcine yang dimurnikan juga tersedia di AS. Karena molekul-molekul insulin memiliki paruh-hidup (half-life) dalam beberapa detik sirkulasi, banyak preparat yang dipakai pada diabetes diformulasi untuk melepas hormon secara lambat laun kedalam sirkulasi.
Bentuk insulin yang tersedia menyediakan empat rate of onset dan durasi efek : onset ultra-cepat, onset cepat dengan aksi-pendek, onset sedang dan aksi sedang, dan onset lambat dengan aksi-panjang (Tabel 41-1). Semua preparat insulin mengandung zinc; rasio zinc (dan substansi lain) ke insulin mempengaruhi laju pelepasan hormon aktif dari lokasi penatalaksanaan, dan lamanya aksi.
1. Aksi ultra cepat dan sangat pendek: Insulin lispro adalah insulin recombinant manusia yang mengandung transposisi dua asam amino, lysine dan proline. Transposisi ini mengubah sifat fisik peptide sehingga insulin lispro larut dengan cepat sekali pada lokasi penatalaksanaannya dan masuk sirkulasi kurang lebih dua kali lebih cepat dibandingkan dengan insulin crystalline reguler. Ini dianggap ultra-cepat pada onset dan cocok dipakai segera sebelum makan (meal). Beda dengan preparat insulin lain, peningkatan dosis hanya menaikkan intensitas, tidak durasi efek.
2. Onset cepat dan aksi pendek: Insulin crystalline zinc (reguler), preparat onset cepat, dipakai melalui intraven saat darurat, atau diberikan lewat subcutaneous dalam regim pemeliharaan biasa, sendiri atau dicampur dengan preparat aksi-sedang atau preparat aksi-panjang. Sebelum pengembangan insulin lispro preparat ini merupakan agen onset yang cepat dipakai dalam regim kontrol ketat tetapi membutuhkan penatalaksanaan satu jam atau lebih sebelum setiap makan (meal).
3. Onset dan aksi sedang: Preparat-preparat ini meliputi suspensi insulin isophane (insulin NPH) dan suspensi lente. Kedua preparat ini diberikan lewat suntikan subcutaneous; keduanya tidak cocok dipakai lewat intravene. Bilamana dicampur insulin onset sedang dengan insulin reguler, insulin NPH dipilih karena insulin lente dapat menghambat onset aksi insulin reguler.
4. Onset lambat dan aksi panjang: Insulin ultralente adalah insulin aksi-panjang. Ini biasanya diberikan hanya pada pagi hari, atau pagi dan malam hari untuk memberikan pemeliharaan atau level basal selama 12-24 jam. Level insulin basal ini bisa disuplemen dengan injeksi insulin lispro atau insulin reguler selama siang hari untuk memenuhi kebutuhan asupan carbohydrate. Glargine insulin, bentuk insulin manusia yang dimodifikasi, adalah preparat aksi ultra-panjang yang memberikan level insulin basal tanpa-puncak (peakless) yang berakhir lebih dari 24 jam. Insulin protamine zinc, preparat aksi-panjang lain, tidak ada lagi di pasaran AS.
Lamanya efek preparat-preparat ini diperlihatkan dalam Gambar 41-2.
5. Sistem penghantaran (delivery) insulin: Moda standar terapi insulin adalah suntikan subcutaneous dengan jarum suntik konvensional dan syringes. Selain itu, beberapa cara penatalaksanaan yang lebih umum juga tersedia atau sedang diujicoba secara klinis.
a. Injektor berukuran-pena yang portabel dipakai untuk memfasilitasi injeksi subcutaneous. Sebagian mengandung cartridge yang bisa diganti sementara yang lain bisa dibuang langsung.
b. Alat infus insulin subcutaneous kontiniu menghindari kebutuhan beberapa kali suntikan dalam sehari dan menyediakan fleksibilitas dalam penjadwalan akltivitas harian pasien. Pompa yang mampu diprogram menghanrkan laju basal konstan 24 jam, dan penyesuaian manual dalam laju penghantaran (delivery) dapat dibuat untuk mengakomodir perubahan pada kebutuhan insulin (misalnya, sebelum makan atau berolahraga).
c. Formulasi insulin inhaled sedang dalam ujicoba klinis. Bentuk ini bisa terbukti efektif dan nyaman untuk pememuhan kebutuhan insulin saat-makan.
D. Risiko penggunaan insulin: Pasien diabetik yang menggunakan insulin tergantung pada dua tipe komplikasi : hypog;ycemia, dari efek insulin eksesif; dan efek racun immunologi, dari perkembangan antibody. Hypoglycemia adalah risiko yang sangat berbahaya, karena kerusakan otak bisa terjadi. Penatalaksanaan glukosa yang benar (gula atau permen melalui mulut, glukosa lewat pembuluh darah) atau glucagon (melalui injeksi intramuskular) adalah esensil. Pasien dengan penyakit ginjal lanjut, lansia, dan anak-anak dibawah usia 7 tahun paling rentan kepada efek buruk dari hypoglycemia.
Bentuk paling umum dan penting komplikasi immunologi yang disebabkan insulin adalah pembentukan antibody insulin, yang menimbulkan rsistansi (penolakan) terhadap aksi obat atau reaksi alergi. Insulin manusia kurang antigenik ketimbang insulin dari sumber hewani. Lipodystrophy, perubahan pada tissu lemak di lokasi injeksi, relatif umum di masa lalu.

Obat Antidiabetik Oral
Empat kelompok obat dipakai untuk pengobatan diabetes secara oral: secretagogues insulin, bigunanida, thiazolidinediones, dan inhibitor -glucosidase. Beberapa anggota kelompok-kelompok ini dicantumkan dalam Tabel 41-2.
A. Secretagogues insulin :
1. Mekanisme dan efek : Aksi primer secretagogues insulin adalah merangsang pelepasan insulin endogen. Semua kecuali satu dari secretagogues insulin adalah sulfonylurea. Sulfonylurea menutup saluran potassium pada selaput sel B pankreas; penutupan saluran ini mendepolarisasi sel dan depolarisasi sel memicu pelepasan insulin. Secretagogues insulin tidak efektif pada pasien yang menderita kekurangan sel-sel beta fungsional. Obat-obat ini juga bisa mengurangi pelepasan glucagon dan menambah jumlah reseptor insulin fungsional pada tissu periperal. Sulfonylurea “generasi kedua” (glyburide, glipizide, glimepiride) biasanya jauh lebih potent dan banyak dipakai dibandingkan dengan agen lain (tolbutamide, chlorpropamide, tolazamide, dan lain-lain). Repaglinide adalah sercretagogue insulin baru dari kelas kimia yang dikenal sebagai meglitinides. Insulin ini juga meningkatkan pelepasan insulin dengan pengikatan ke saluran potassium pada selaput sel B pankreas. Perbedaan yang paling menyolok antara repaglinide dan sulfonylurea adalah onset cepat dan durasi aksi pendek (Tabel 41-2). Obat ini digunakan sebelum maka untuk tujuan pengendalian konsentrasi glukosa postprandial.
2. Toksitas: Efek buruk relatif tidak umum dengan sulfonylurea; hypoglycemia karena overdosis, rash, dan alergi sering dilaporkan. Chlorpropamide mempunyai durasi aksi panjang, dan sakit liver atau ginjal bisa meningkatkan level darah obat. Karena potensinya yang besar, hypoglycemia agaknya lebih umum dengan glyburide dan glipizide. Sulfonylurea lama (tolbutamide dan chlorpropamide) secara ekstensif terikat dengan protein serum. Obat yang bersaing untuk pengikatan protein bisa menaikkan efek hypoglycemianya.

B. Biguanides : Biguanides beraksi dengan mekanisme yang tidak jelas untuk mengurangi level glukosa postprandial dan puasa pada pasien penderita diabetes tipe 2. Efek-efeknya tidak bergantung pada sel-sel islet fungsional. Mekanisme yang diusulkan untuk aksinya meliputi pengurangan glukoneogenesis hepatik, rangsangan glycoluysis dalam jaringan periperal, reduksi serapan glukosa dari saluran gastrointestinal, dan reduksi level glucagon plasma.Beberapa biguanides dipakai diluar negeri. Metformia adalah anggota primer kelompok ini di USA. Beda dengan sulfonylurea, biguanides tidak menimbulkan hypoglycemia. Toksitasnya yang paling umum adalah distres gastrointestinal (nausea, diare), dan bisa mengalami acidosis laktis, khususnya pada pasien penderita penyakit ginjal atau liver, alkoholisme, atau kondisi-kondisi yang menyebabkan predisposisi pada anoxia tissu (misalnya, disfungsi kronis kardiopulmonary). Metformin juga menghambat serapan vitamin B12.
C. Thiazolidinediones :
1. Mekanisme dan efek: Thiazolidinediones meningkatkan kepekaan tissu sasaran untuk insulin. Troglitazone adalah thiazolidinedione pertama yang diperkenalkan, tetapi ditarik dari pasaran di beberapa negara karena hepatoksitasnya. Rosiglitazone dan pioglitazone tampaknya lebih sedikit mengandung risiko disfungsi liver yang serius. Mekanisme aksi thiazolidinediones tidak diketahui dengan pasti tetapi mekanismenya merangsang peroxisome proliferator-activated receptor-gamma nuclear receptor (PPAR-y receptor). Reseptor nuklei ini mengatur transkripsi protein-protein encoding gen yang melibatkan carbohydrate dan metabolisme lipid. “Glitazone” meningkatkan ambilan (uptake) glukosa pada otot dan tissu adipose, menghambar gluokoneogenesis hepatik, mengurangi hyperglycemia puasa dan postprandial. Mereka dipakai sebagai monoterapi atau digabung dengan insulin atau obat antibodi oral lainnya.
2. Toksitas : Bilamana obat-obat ini dipakai sendirian, hypoglycemia sangat jarang. Thiazolidinediones dapat menimbulkan edema dan anemia ringan. Pioglitazone dan troglitazone tampaknya menginduksi cytochrome P450 (khususnya isozyme 3A4) dan dapat mengurangi konsentrasi serum obat-obat yang dimetabolisasi dengan enzim-enzim ini (misalnya, kontrasepsi oral, cylosporine).
D. Penghambat -glucosidase: Acarbose dan miglitol adalah analog-analog carbohydrate yang beraksi didalam intestine untuk menghambat -glucosidase, suatu enzim yang perlu untuk konversi starches (sari) kompleks, oligosaccharides, dan disaccharide ke monosaccarides yang dapat diangkut keluar dari lumen intestinal dan kedalam aliran-darah. Sebagai akibat serapan yang lambat, postprandial hyperglycemia berkurang. Mereka tidak berpengaruh pada gula darah puasa. Kedua jenis obat ini dapat dipergunakan sebagai monoterapi atau disatukan dengan obat antibody lain. Efek buruk utamanya meliputi flatulence, diare, dan keluhan perut yang bersumber dari peningkatan fermentasi carbohydrate tak terserap oleh bakteri dalam kolon. Jika seorang pasien yang sudah menggunakan penghambat -glucosidase mengalami hypoglycemia, dia harus ditangani dengan glukosa oral (dexrrose) dan bukan sukrosa karena serapan sukrosa akan lambat.


Pengobatan Diabetes Mellitus
Diabetes didiagnosa atas dasar lebih dari satu determinasi gula darah puasa diatas 140 mg/dL. Dua bentuk utama penyakit ini sudah diidentifikasi. Diabetes tipe 1 biasanya memiliki onset-nya selama masa kanak-kanak dan bersumber dari reaksi autoimmun yang memuncak pada kerusakan sel-sel B pankreas. Diabetes tipe 2 adalah gangguan progressif yang ditandai oleh meningkatnya resistansi insulin dan berkurangnya kapasitas sekresi insulin. Tipe ini biasanya mempunyai onset pada masa dewasa dan sering dihubungkan dengan obesitas.Diabetes tipe 2 jauh lebih umum dari pada diabetes tipe 1; diperkirakan bahwa diabetes tipe 2 menyerang lebih dari 20% dari seluruh warga AS diatas 65 tahun. Riwayat klinis dan masa kedua bentuk ini sangat berbeda, tetapi pengobatan pada kedua kasus ini membutuhkan perhatian yang cermat untuk diet, sampai dengan konsentrasi glukosa dasar puasa dan postprandial, dan konsentrasi serum hemoglobin Aic, hemoglobin glycosylated yang berfungsi sebagai pemarka (marker) glycemia.
A. Diabetes tipe 1 : Terapi diabetes tipe 1 meliputi pengaturan diet, insulin ortu (campuran bentuk aksi-pendek dan aksi-panjang untuk mempertahankan gula darah stabel selama siang dan malam hari), dan perhatian cermat dari pasien terhadap faktor-faktor yang mengubah kebutuhan insulin; olahraga, infeksi, bentuk stres lain, dan penyimpangan dari diet reguler. Studi-studi klinis baru menunjukan bahwa kontrol gula darah yang ketat – oleh pengujian gula darah dan injeksi insulin – mengurangi insidensi komplikasi vaskuler, termasuk kerusakan ginjal dan retina. Risiko reaksi hypoglycemic naik dalam regim kontrol yang ketat, tetapi tidak cukup untuk mengaburkan manfaat kontrol yang lebih baik.
B. Diabetes tipe 2 : Karena diabetes tipe 2 adalah penyakit yang progresif, terapi untuk masing-masing individu biasanya meningkat terus. Ini mulai dengan reduksi berat dan kontrol diet. Terapi obat awal biasanya monoterapi dengan sulfonyurea generasi kedua (glyburide, glipizide atau glimepiride); atau biasanya dengan metformin atau thiazolidinedione. Bilamana reaksi awal kepada monoterapi biasanya baik, kegagalan sekunder didalam 5 tahun adalah lazim. Dengan demikian, antibody oral digunakan bersama dengan obat lain atau dengan insulin untuk mencapai kontrol glycemic yang lebih baik dan meminimumkan toksitas. Karena diabetes tipe 2 melibatkan resistansi insulin dan produksi insulin yang tidak memadai, ini berarti menyatukan agen yang merangsang aksi insulin (metformin, thiazolidinedione, atau penghambat -glucosidase) dengan sesuatu yang merangsang suplai insulin (secretagogues insulin atau insulin). Obat-obat aksi-lama (sulfonylurea, metformin, thiazolidinediones, sebagian formulasi insulin). Obat-obat aksi-lama membantu mengontrol level glukosa darah puasa dan postprandial sementara obat aksi-pendek terutama level postprandial sasaran. Seperti pada kasus diabetes tipe 1, ujicoba klinis menunjukan bahwa kontrol ketat ujicoba glukosa darah pada pasien penderita diabetes tipe 2 mengurangi risiko komplikasi vaskuler.


Insulin pulau langerhans yang kecil terdiri atas empat jenis sel dimana terjadi sintesis dan sekresi suatu hormon polpeptida yang eda.
Hormon insulin andogen adalah sel B
Glukagon endogen adalah sel A
Somatostatin endogen adalah sel D
Plypeptide pankreas endogen adalah sel F

Beredar didalam sirkulasi darah sebagai monomer pada saat berpuasa pankreas mengeluarkan
















2.6
42. Obat-obat Yang Mepengaruhi
Homeostasis Mineral Tulang

Konsep
Kalsium dan fosfor adalah dua unsur pokok tulang. Kedua unsur ini penting dalam fungsi sel-sel lain dalam tubuh, dan tulang dengan demikian beraks sebagai reservoir penyimpan (penimbun). Hormon parathyroid (PTH) dan vitamin D merupakan unsur penting dalam pengatyuran homeostasis mineral tulang. Calcitonon, glueoecrticoid, dan estrogen adalah regulator yang kurang penting. Agen-agen eksogen yang dipakai dalam pengobatan gangguan mineral tulang (misalnya, osteoporosis, penyakit Paget) meliputi bisphosphonates, fluoride, dan estrogen (Gambar 42-1).

Substansi Endogen
A. Hormon parathyroid. Hormon parathyroid (PTH), peptida 86-asam-amino, beraksi pada reseptor pasangan-protein selaput G untuk menaikkan cAMP dalam tulang dan tubule ginjal. Pada dosis tinggi, hormon menaikkan kalsium darah dan menurunkan fosfor dengan peningkatan resorpsi tulang (Gambar 42-2). Pada dosis rendah (level physiologis), PTH dapat meningkatkan formasi tulang (Tabel 42-1), dan analogi dipakai dalam osteoporosis postmenopause.
B. Vitamin D: Vitamin D, derivatif 7-dehydrocholesterol, terbentuk dalam kulit dengan adanya pengaruh sinar ultraviolet. Vitamin D juga dijumpai pada sebagian makanan dan biasanya dipakai sebagai suplemen makanan dalam susu. Metabolit aktif vitamin D terbentuk dalam liver (calcifediol) dan ginjal (calitriol, secalcidediol). Mereka berbeda dalam jumlah gugus hydroxyl pada molekul (Tabel 42-2). Aksi vitamin D meliputi peningkatan jumlah kalsium intestine dan absorpsi fosfor, menurunnya ekskresi ginjal substansi-substansi ini, dan peningkatkan jumlah level darah keduanya (Gambar 42-2; Tabel 42-1). Kedua formasi ini bisa naik dengan secalcifediol (24,25-dihydroxyvitamin D). Suplemen vitamin D dan derivatif (turunan) sintesis dipakai dalam pengobatan keadaan defisiensi, termasuk kegagalan ginjal kronis, osteodystropfi intestinal, dan ricket nutrisi. Mereka juga dipakai, bersama dengan suplementasi kalsium dan terapi penggantian hormon dalam osteoporosis postmenopause.
C. Calcitonin: Calcitonin, hormon peptida yang disekresi oleh kelenjar thyroid, menurunkan resorpsi tulang dan kalsium serum dan fosfat (Gambar 42-2). Formasi tulang semula tidak terganggu, tetapi akhirnya formasi tulang terhambat. Hormon sudah banyak dipakai dalam kondisi dimana reduksi akut kalsium serum dibutuhkan, misalnya penyakit Paget dan hyperclacemia. Meskipun calcitonin disetujui untuk pengobatan osteoporosis, masih dipertanyakan apakah penggunaan dalam jangka panjang mencegah fraktur. Meskipun calcitonin manusia ada, calcitonin salmon paling sering dipilih untuk keperluan klinis karena paruh-usianya yang lebih panjang dan potensinya lebih besar. Calcitonin diberikan dengan injeksi atau sebagai semprot hidung (nasal spray).
D. Estrogen : Estrogen dan modulator reseptor estrogen selektif (SERMS, misalnya, raloxifenel dapat mencegah atau memperlambat kerugian (loss) tulang pada wanita postmonopause (Bab 40). Aksinya bisa meliputi penghambatan resorpsi tulang rangsangan-hormon. Karena kemanjuran estrogen besar dalam memperlambat perkembangan osteoporosis, banyak ahli menyarankan obat-obat ini untuk dipakai secara umum pada wanita postmenopause.
E. Glucocorticoids : Glucocoricoids mempunyai beberapa efek berat yang sudah disebutkan yang menghambat pemeliharaan mineral tulang. Maka, penggunaan obat-obat ini secara sistemik kronis adalah penyebab umum osteoporosis pada orang dewasa. Namun, hormon-hormon ini berguna pada pengobatan hypercalcemia jangka-menengah.

Agen Eksogen
A. Bisphosphonates: Bisphosphonates (alendronate, etidronate, pamidronate, dan risedronate) adalah senyawa-senyawa polyfosfat rantai-pendek yang mereduksi resorpsi dan formasi tulang dengan aksi pada struktur kristal hydroxyapatite dasar. Terapi bisphosphonate kronis dapat memperlambat kemajuan osteoporosis postymenepause dan mengurangi fraktur. Obat-obat lama (etidronate, pamidronate) menyebabkan cacat mineralisasi tulang dan menghilangkan efektivitasnya selama 12 bulan. Alendronate dan risedronate menyebabkan masalah tulang lebih sedikit dan efektif untuk selama 5 tahun. Keduanya biasanya dipakai untuk pengibatan osteoporosis (postmenepause dan induksi-glucocorticoid) dan penyakit Paget. Alendronate, yang dipakai bersama dengan terapi penggantian hormon, selanjutnya meningkatkan massa tulang pada pasien menopause. Bioavaiabilitas bisphosphonates secara oral rendah (< 10%), dan makanan menghambat absorpsinya. Ulkerasi esophageal bisa terjadi. Pasien harus menggunakan obat dengan sejumlah air yang cukup banyak dan menghindarkan situasi-situasi yang memungkinkan reflux esophageal.
B. Fluorida: Konsentrasi ion fluorida yang cocok dalam air minum (0,5 – 1 ppm) atau sebagai zat additif dentifrice sudah menunjukan kemampuan yang baik untuk mengurangi caries gigi. Paparan kronis ke ion, khususnya dalam konsentrasi tinggi, bisa meningkatkan sintesis tulang baru. Namun, tidak jelas apakah tulang baru ini normal kekuatannya. Ujicoba klinis fluorida pada pasien dengan osteoporosis belum membuktikan penurunan tingkat fraktur. Toksitas akut fluorida (biasanya disebabkan oleh ingesti racun tikus) dimanifestrasi oleh simptom gastrointestinal dan neurologi. Toksitas kronis meliputi formasi dan exostoses tulang ectopik.
C. Obat lain dengan Efek pada Kalsium dan Tulang : Plicamycin (mithramycia) adalah suatu antibiotik yang dipakai untuk mengurangi kalsium dan resorpsi tulang pada penyakit Paget dan hypercalcemia. Karena risiko toksitas serius (misalnya, thrombocytopenia, pendarahan, hepatik dan kerusakan ginjal), plicamycin tidak lazim dipakai dan terutama terbatas untuk pengobatan jangka pendek hypercalcemia serius. Beberapa diuretik dapat mempengaruhi level kalsium serum.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar